Kamis, 03 Jan 2019 17:28 WIB

Marak Oplas Gara-Gara Body Shaming, Dokter Sarankan Konsultasi Dulu

Rosmha Widiyani - detikHealth
Body shaming banyak memicu permintaan operasi plastik (Foto: iStock)
Jakarta - Belajar dari kasus Anjasmara dan Dian Nitami, body shaming saat ini memang bisa dilaporkan pada pihak berwajib. Tersangkanya bisa terkena sanksi 4 tahun penjara atau denda maksimal Rp 750 juta. Selain penegakan hukum, operasi plastik (oplas) kerap dipandang sebagai solusi bagi yang tak tahan dibully karena body shaming.

Menurut dokter ahli bedah plastik rekonstruksi estetik konsultan dr Fonny Josh SpBP-RE (K), memilih oplas bagi yang mengalami body shaming sebetulnya sah saja. Namun, pasien harus menerima edukasi dari dokter terlebih dulu sebelum melaksanakan tindakan bedah.

"Boleh-boleh saja memilih oplas akibat dibully karena body shaming. Beberapa pasien saya memiliki motif tersebut meski tidak semua memilih oplas. Sebelumnya, pasien harus tahu jika tidak semua yang ada di tubuh bisa dirubah menjadi lebih baik," kata dr Fonny yang berpraktik di FJ Aesthetic Clinic pada detikHealth, Kamis (03/01/2019).


Menurut dr Fonny, sebagai dokter dirinya akan memberi gambaran hasil bedah plastik yang akan diperoleh pasien. Selanjutnya pasien bisa mempertimbangkan apakah masih melanjutkan oplas atau tidak. Dokter juga memberi informasi soal bekas luka dan masa penyembuhan yang harus dijalani pasien.

Oplas memang bisa memperbaiki penampilan dan menunjang rasa percaya diri. Dalam beberapa kasus, oplas menjadi kebutuhan bagi mereka yang harus selalu tampil sempurna di depan umum. Namun, tetap ada rasio proporsionalitas antar organ tubuh yang menentukan kualitas tampilan dan pentingnya oplas.

(up/up)