Jumat, 04 Jan 2019 09:31 WIB

Tren Berbahaya 'Bird Box Challenge'! Tutup Mata Sembari Beraktivitas

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Bird Box Challenge dianggap makin membahayakan (Foto: iStock) 'Bird Box' Challenge dianggap makin membahayakan (Foto: iStock)
Jakarta -

Selalu ada challenge dari tahun ke tahun dan kebanyakan menelan kontroversi. Salah satunya yang baru-baru ini viral adalah 'Bird Box Challenge' yang terinspirasi dari adegan drama thriller yang diperankan oleh Sandra Bullock, di mana ia menggunakan penutup mata bersama kedua anaknya yang dinamai 'Boy' dan 'Girl' melewati tempat berbahaya seperti hutan atau sungai.

Netflix telah mengeluarkan peringatan mengenai bahayanya 'Bird Box Challenge' dan mengharapkan para penggemar untuk mengikuti film tersebut.

"Tidak percaya aku sampai harus mengatakan ini, tapi: MOHON JANGAN MENYAKITI DIRI ANDA DENGAN MELAKUKAN BIRD BOX CHALLENGE INI. Kami tidak tahu mengapa ini terjadi, dan kami menghargai cinta yang diberikan, tapi hanya memiliki satu keinginan untuk 2019 dan itu adalah kamu tidak berakhir di rumah sakit karena meme," tulis akun resmi Netflix di Twitter.

Berdasarkan penelusuran detikHealth di YouTube, video yang ditampilkan memang beragam. Ada yang melakukan kegiatan tidak terlalu berbahaya semisal berjalan-jalan di sekitaran tempat berbelanja, atau memakaikan make up ke pada temannya. Akan tetapi, ada juga yang cukup buat 'ngilu' ketika sampai ada anak kecil yang menabrak dinding atau bahwa pria yang mengendarai mobil selama beberapa saat sambil menutup matanya dengan topi. Serius?!


Melansir Teen Safe, media sosial adalah salah satu media yang tentu saja berperan besar dalam penyebaran informasi soal challenge-challenge yang pernah ada. Karena masa remaja adalah di mana otak terus 'diprogram' untuk mencari hal-hal baru dan pengetahuan, terkadang membuat anak jadi kesulitan untuk berpikir rasional.

Selama masa pubertas, otak menghasilkan kadar hormon tambahan, termasuk dopamin, untuk mempersiapkan kematangan seksual. Dopamin menghasilkan perasaan baik yang mendorong orang untuk melakukan apa yang terasa menyenangkan.

Otak remaja sarat dengan dopamin, sehingga didorong untuk mencari rangsangan dan penghargaan yang konstan. Ini berarti hal-hal yang terasa baik secara umum terasa luar biasa bagi seorang remaja. Maka tidak masalah untuk melakukan tantangan-tantangan tersebut untuk mendapatkan sensasi tersebut.

Dikutip dari Times of India, Dr Damanjit Sandhu presiden dari The Indian Association of Mental Health Counsellors pun menjelaskan hal yang sama tentang mengapa anak kerap terpengaruh challenge-challenge di media sosial.

"Remaja yang bersifat egosentris menunjukan dirinya melalui 2 cara yakni dengan membayangkan dirinya sebagai pusat perhatian melalui sosial media dan mereka percaya bahwa sesuatu yang unik serta viral ditunjukkan untuk mereka lakukan," jelas Dr Damanjit Sandhu.

Dengan melakukan pendekatan oleh orangtua dan pendidikan di sekolah, tren tantangan yang berbahaya ini seharusnya bisa disikapi para remaja dengan lebih berpikir matang. Selain itu, perhatian dan pendampingan yang cukup bisa mengakomodir kreativitas remaja ke arah yang lebih positif.

(ask/up)
News Feed