Kamis, 10 Jan 2019 18:30 WIB

Keluhkan ARV Makin Langka, Pengidap HIV Terancam Putus Obat

Kireina S. Cahyani - detikHealth
Obat ARV untuk pengidap HIV (Foto: Kireina/detikHealth) Obat ARV untuk pengidap HIV (Foto: Kireina/detikHealth)
Jakarta - HIV dan AIDS masih menjadi ancaman bagi kesehatan di berbagai belahan dunia. Begitu pula di Indonesia, berdasarkan data permodelan HIV Epidemiologic Update, WHO, MoH, UNAIDS, terdapat sekitar 631.635 orang yang terkena infeksi HIV dan AIDS di tahun 2018.

Hadirnya obat ARV (Antiretroviral) dinilai menjadi salah satu angin segar untuk para ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS). Obat ini dapat menekan jumlah virus yang berkembang dalam tubuh pengidap HIV sehingga ODHA yang telah mengosumsi obat ini secara teratur seumur hidupnya, tingkat kesehatannya tidak akan jauh berbeda degan orang lain yang tidak terinfeksi.

Sebagian besar ODHA di Indonesia menggunakan obat ARV dengan jenis regimen kombinasi Tenofovir, Lamivudin, dan Efavirenz (TLE). Berdasarkan data dari Kemenkes hingga bulan Agustus 2018, terdapat sekitar 42 persen dari total keseluruhan ODHA atau sebanyak 43.586 ODHA yang mengonsumsi ARV dengan kombinasi TLE ini.

Namun proses pengadaaan obat ARV Fixed Dose Combination jenis TLE di tahun 2018 disebut-sebut mengalami kegagalan. Hal ini tejadi akibat kekosongan stock obat ARV di banyak tempat di Indonesia.



"Sistem pengadaan obat di Indonesia itu sangat fragmented, jadi tidak ada sebuah alur yang jelas bagaimana kemudian negara bisa mencukupi ketersediaan obat untuk mendukung program nasional," ujar Aditya Wardhana dari LSM Indonesia AIDS Coalition, saat ditemui detikHealth di kawasan Jakarta Pusat, Kamis, (10/1/2019).

Menurut Aditya, sebelumnya Kemenkes telah melakukan proses lelang terbatas dengan dua peserta yaitu Kimia Farma dan Indofarma Global Medika, namun tidak menghasilkan pemenang sehingga proses ini menjadi deadlock dan mulai terjadi kekosongan stock obat ARV jenis TLE ini di berbagai tempat.

Kemudian krisis obat ini ditanggulangi dengan pengadaan darurat dengan menggunakan dana bantuan donor Global Fund dengan membeli langsung obatnya di India. Sayangnya setelah tiba di Indonesia akhir tahun 2018, obat ini dinyatakan krisis karena kita hanya memiliki jumlah yang sangat terbatas dan hanya mencukupi kebutuhan ODHA di Indonesia hingga bulan April mendatang.

"Hal ini terjadi akibat tidak ada yang memonitori proses ini dari awal sampai akhir guna memastikan bahwa kita mendapatkan obat yang berkualitas dengan harga yang terjangkau, sehingga keadaannya menjadi carut marut," tutup Aditya.

(up/up)