detikhealth

Hari AIDS Sedunia

Wacana ARV Berbayar untuk Pengidap HIV Masih Dikaji

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 02/12/2016 19:03 WIB
Wacana ARV Berbayar untuk Pengidap HIV Masih DikajiFoto: 20detik
Jakarta, Persoalan seputar HIV-AIDS tak melulu soal jumlah kasus dan bagaimana pencegahannya. Seringkali didapati fakta bahwa ketersediaan obat yang harus diminum ODHA (Orang dengan HIV-AIDS) seumur hidup, juga terbatas.

Namun yang ini belum tuntas, sudah muncul lagi persoalan baru terkait obat yang disebut dengan ARV (antiretroviral) tersebut. Kabarnya ada wacana ARV berbayar yang beredar sehingga meresahkan ODHA.

Otto Bambang Wahyudi, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Jawa Timur juga mengetahui akan adanya wacana ini. Menurutnya, wacana ini muncul ketika ada ODHA yang sempat berhenti mengonsumsi ARV sehingga terjadi resistensi.

"Kalau terjadi resistensi, maka dia harus mengulang dengan dosis yang tinggi, masuk pada lini ketiga. Kalau ini pemerintah belum siap menyediakan," terangnya kepada detikHealth saat ditemui usai acara puncak perayaan Hari AIDS Sedunia 2016 di Surabaya, Kamis (1/12/2016).

Namun diakuinya, untuk mendapatkan ARV lini ketiga dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ia memperkirakan, satu ODHA harus menyediakan setidaknya Rp 14 juta untuk mendapatkan stok ARV lini ketiga ini untuk jatah satu bulan. "Makanya wacana ini ditujukan bagi mereka yang tingkat ekonominya memang tinggi atau malu," imbuhnya.

Baca juga: Begini Cara KPA Jatim Atasi Tingginya Kasus AIDS pada Ibu Rumah Tangga

Ditemui dalam kesempatan terpisah, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, dr Wiendra Waworuntu, MKes menambahkan, wacana ini justru muncul dari ODHA sendiri yang tak mau mengantri di layanan kesehatan yang ditunjuk karena alasan kesibukan pekerjaan.

Wacana yang sama, lanjut Wiendra, juga diajukan untuk mengatur pasokan ARV untuk ODHA yang bukan WNI atau warga negara asing.

Yang dimaksud dengan berbayar pun bukan meminta setiap ODHA untuk membayar, akan tetapi Kemenkes mengklaim siap menjual kepada mereka yang membutuhkan. "Keluhan-keluhan ini kita tampung dulu, dan sedang kita kaji," tegasnya.

Wiendra memastikan, ARV diberikan secara gratis oleh pemerintah, dan ODHA tidak pernah dianjurkan untuk membeli. "Ya mungkin dia nggak tahu ada obat gratis dari pemerintah," ujarnya lagi.

Lagipula, tegas Wiendra, ARV tidak seharusnya dijual secara bebas. Kalaupun ada oknum-oknum yang menjual di luar sepengetahuan Kemenkes, pihaknya meminta agar masyarakat melapor.

"Nanti kami lacak," pesannya.

Perlu diketahui bahwa untuk mendapatkan obat ARV lini pertama dan kedua, syaratnya hanyalah dengan menjadi anggota BPJS. Wiendra sendiri menjamin ketersediaan ARV masih memadai hingga tahun 2017 mendatang.




Baca juga: Pengidap HIV Tetap Bisa Menikah, Risiko Penularan ke Anak Bisa Dicegah (lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit