Rabu, 16 Jan 2019 13:00 WIB

Kematian Akibat Serangan Jantung Bisa Dicegah, Begini Caranya

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi serangan jantung. Foto: ilustrasi/thinkstock Ilustrasi serangan jantung. Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Serangan jantung kerap dianggap sebagai penyebab mati mendadak. Faktanya riset Atherosclerosis Risk in Communities (ARIC) menyatakan, hampir 45 persen pasien yang meninggal tiba-tiba memang diakibatkan serangan jantung. Pasien tua dan muda berisiko sama meninggal mendadak karena serangan jantung.

Menurut dokter spesialis dokter spesialis bedah thorax kardiovaskuler dr Maizul Anwar Sp BTKV (K), serangan jantung tak harus berakhir meninggal mendadak. Sayangnya upaya pencegahan ini kerap diremehkan, terutama pada usia produktif yang kesulitan menerapkan pola hidup sehat.

"Kita sering kali meremehkan sensasi tertusuk, tertekan, atau diremas di dada. Padahal, ini adalah gejala adanya sumbatan di jantung. Sensasi ini awalnya memang hilang sendiri namun durasinya makin lama, dan tak kunjung hilang meski sudah minum obat nitrat," kata dr Maizul pada detikHealth.


dr Maizul menjelaskan, sensasi sesak makin lama seiring makin besarnya sumbatan pada pembuluh darah. Penyumbatan adalah plak yang mengakibatkan penebalan pembuluh, sehingga tak punya cukup ruang untuk sirkulasi darah. Plak biasanya terdiri atas kolesterol, zat lemak, kalsium, dan zat dalam darah (fibrin).

Kepada masyarakat yang kerap merasakan sensasi sesak di dada, dr Maizul menyarankan segera berkonsultasi ke dokter. Sesak yang tidak reda meski sudah istirahat, bisa jadi merupakan gejala penyakit jantung arteri koroner. Penanganan secepatnya menurunkan risiko meninggal mendadak, serta meningkatkan peluang sembuh.



Simak juga video 'Menepuk Lengan Kiri Dapat Atasi Jantung, Hoax atau Tidak?':

[Gambas:Video 20detik]


Kematian Akibat Serangan Jantung Bisa Dicegah, Begini Caranya
(up/up)