Sabtu, 26 Jan 2019 20:02 WIB

Berbagai Kondisi yang Meningkatkan Risiko Serangan Jantung di Usia Muda

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi jantung. Foto: thinkstock Ilustrasi jantung. Foto: thinkstock
Jakarta - PSIS Semarang mengumumkan meninggalnya atlet muda Erik Dwi Ermawansyah pada Jumat (25/01/2019) lewat media sosial. Erik dikabarkan meninggal setelah mengalami serangan jantung di usia 22 tahun.

Dikutip dari Everyday Health, serangan jantung pada usia muda biasanya diakibatkan henti jantung mendadak atau Sudden Cardiac Arrest (SCA). SCA biasanya disebabkan kelainan struktur jantung yang tidak terdeteksi. Hal ini menjadikan SCA berbeda dengan serangan jantung pada usia lebih tua yang biasanya diakibatkan gangguan pada pembuluh darah.


Salah satu kondisi yang bisa menyebabkan SCA adalah Hypertrophic Cardiomyopathy (HCM). Pada HCM, otot dinding jantung menebal hingga mengganggu sistem listrik pada jantung, yang menyebabkan iramanya terlalu cepat atau tidak teratur (aritmia). HCM yang kerap tidak terdeteksi paling banyak mengakibatkan SCA, pada atlet laki-laki yang berusia kurang dari 30 tahun.

Kondisi selanjutnya adalah jalinan pembuluh arteri koroner yang mengalami abnormalitas atau coronary artery abnormalities. Akibatnya, pembuluh tertekan saat melakukan aktivitas fisik hingga tidak bisa menyediakan cukup darah untuk jantung. SCA juga bisa diakibatkan sindrom Long QT yang bersifat bawaan. Sindrom ini mengakibatkan irama jantung terlalu cepat, berantakan, hingga pasien pingsan. Orang usia muda dengan riwayat Long QT berisiko mengalami kematian akibat henti jantung atau sudden cardiac death (SCD).

Everyday Health juga menyebut kelainan sejak lahir (congenital), serta radang otot jantung akibat bakteri atau virus sebagai penyebab SCA. Penyebab SCA bisa dideteksi dengan pemeriksaan Electro Kardiogram (EKG), yang dilanjutkan dengan terapi sesuai saran dokter. Dengan cara ini risiko kematian akibat SCA bisa ditekan, tanpa mengganggu aktivitas pasien setiap hari.

(up/up)
News Feed