Jumat, 08 Feb 2019 09:15 WIB

LIPI Kembangkan Kit Deteksi Kanker Payudara HER 2, Begini Penampakannya

Rosmha Widiyani - detikHealth
Tampilan isi kotak Kit Pendeteksi Biomarker Kanker Payudara HER 2 Positif. Foto: Dok. Desriani/LIPI Tampilan isi kotak Kit Pendeteksi Biomarker Kanker Payudara HER 2 Positif. Foto: Dok. Desriani/LIPI
Topik Hangat Hari Kanker Sedunia
Jakarta - Deteksi kanker payudara akibat gen Human Epidermal Growth Receptor (HER) 2 bisa lebih murah dan cepat di masa mendatang. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kini tengah mengembangkan prototipe Kit Deteksi Biomarker Kanker Payudara Positif HER 2.

"Dengan kit ini maka ongkos pemeriksaan lebih murah dengan hasil akurat karena alat bekerja dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil pemeriksaan bisa keluar dalam waktu 2,5-3 jam dengan biaya Rp 150-200 ribu. Sesuai dengan kapasitas mesin PCR di fasilitas kesehatan, kit bisa membaca lebih banyak sampel kanker payudara. Alat ini kini masuk tahap karakterisasi untuk memastikan efektivitasnya," ujar periset Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Desriani pada detikHealth, Kamis (02/07/2019).



Desriani menjelaskan, kit ditujukan bagi pasien yang sudah terdeteksi kanker payudara. Kit memastikan pertumbuhan kanker terkait dengan gen HER 2 sehingga terapi tertarget bisa segera diberikan pada pasien. Sebanyak 1 dari 5 kasus kanker payudara disebabkan substansi protein HER 2 berlebihan sehingga sel payudara membelah tanpa kendali. Pada kondisi normal, gen HER 2 yang mengasilkan substansi HER 2 bertugas mengontrol pertumbuhan dan memperbaiki sel payudara jika terjadi kerusakan.

Dunia medis sebetulnya sudah mengenal teknik deteksi HER 2 lain, yaitu Immuno Histo Kimia (IHK) dan Fluorencence In Situ Hybridization (FISH). Pemeriksaan IHK bertarif Rp 500-750 ribu sedangkan FISH merogoh kocek hingga Rp 2-2,5 juta. Menurut Desriani, pemeriksaan berdasar teknik pewarnaan tersebut cenderung subjektif bergantung dari keahlian tenaga kesehatan yang membaca data pemeriksaan. Tenaga kesehatan dengan kompetensi dan pengalaman minim belum tentu bisa membaca data dengan tepat.

Hal ini berbeda dengan kit yang membaca hasil pemeriksaan sampel sel kanker pasien dalam angka. Data HER 2 dalam angka menekan risiko subjektifitas dari tenaga kesehatan, sehingga hasil pemeriksaan lebih akurat. Kit ini nantinya akan digunakan tenaga kesehatan di rumah sakit tipe A, yang memiliki dokter onkologi dan mesin PCR di laboratorium kesehatannya.




Tonton juga video 'Tips Beri Tahu Orang Terdekat Saat Didiagnosa Kanker Payudara':

[Gambas:Video 20detik]

(up/up)
Topik Hangat Hari Kanker Sedunia