Jumat, 15 Mar 2019 18:21 WIB

Alasan Psikologis untuk Tidak Share Video Penembakan Masjid New Zealand

Rosmha Widiyani - detikHealth
Dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru, menjadi sasaran penembakan brutal (Foto: Reuters) Dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru, menjadi sasaran penembakan brutal (Foto: Reuters)
Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara meminta warga Indonesia tidak ikut menyebarkan video penembakan di Masjid New Zealand. Video itu mengandung kekerasan brutal yang tidak layak disaksikan

"Kami mengimbau agar masyarakat tidak ikut menyebarkan video atau tautan terhadap konten kekerasan yang brutal tersebut. Kominfo akan terus memantau dan mengupayakan dengan maksimal penapisannya," kata Rudiantara sebagaimana dikutip dari Twitter resminya, @rudiantara_id, Jumat (15/3/2019).



Imbauan serupa sering muncul dalam setiap aksi kekerasan yang terdokumentasikan secara visual. Namun selalu saja ada yang 'bandel' menyebarkannya di media sosial.

Dalam wawancara dengan detikHealth beberapa waktu lalu, psikolog anak dan remaja Ratih Zullhaqqi mengatakan video sadis berdampak buruk bagi yang menyaksikan. Menurut Ratih, siapa saja yang menonton video tersebut akan mengalami trauma tersendiri. Hal ini perlu jadi perhatian, terutama bagi yang tanpa pikir panjang langsung melihat video tanpa mempertimbangkan muatannya.

"Pasti ada sisi traumanya terutama jika yang melihat anak-anak. Jika sampai melihat harus ada penjelasan dari orang tua, yang juga berfungsi sebagai filter bagi anak-anaknya," ujar Ratih mengomentari video sadis peneroyokan suporter beberapa waktu lalu.



Ratih juga menjelaskan dampak psikis usai nonton yaitu imajinasi liar, cemas, atau justru tidak merasa takut. Dampak lain adalah munculnya kalimat umpatan usai melihat video.

Ratih mengimbau mereka yang menerima broadcast untuk mempertimbangkan terlebih dulu konten video. Konten baru disebarkan jika memang layak tonton misal tidak ada kejadian sadis. Ratih mengatakan, menjadi pengguna media sosial yang bijak merupakan keharusan bagi setiap lapisan masyarakat.

Sementara psikiater dari RS Omni Alam Sutera dr Andri, SpKJ juga pernah mengingatkan dampak konten sadis bagi pengidap masalah kejiwaan tertentu. Beredarnya video kekerasan, menurutnya bisa memicu kecemasan.

"Niat kita mungkin memberitahu bahwa ada kejadian ini di medsos atau whatsapp. Tapi kita tidak tahu apakah di antara teman-teman dan keluarga yang ada di medsos kita ada yang memiliki gangguan kecemasan. Nah, penyakitnya bisa kambuh dengan melihat foto-foto seperti itu," kata dr Andri saat media sosial dihebohkan foto-foto korban bom Kampung Melayu pada 2017 lalu.

(up/up)