Rabu, 03 Apr 2019 07:10 WIB

Round Up

Minyak Kutus-kutus yang Fenomenal, Gosip Haram hingga Klaim 'Minyak Sakti'

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ada banyak ramuan minyak oles di Indonesia (Foto: iStock) Ada banyak ramuan minyak oles di Indonesia (Foto: iStock)
Jakarta - Minyak oles sebagai pengobatan tradisional sudah digandrungi oleh masyarakat sejak dahulu. Jenis minyak oles di Indonesia pun sangat beragam.

Salah satunya minyak asal Bali yang saat ini tengah ngehits yaitu minyak kutus-kutus. Produk ini cukup fenomenal, banyak klaim yang menyertainya termasuk soal khasiatnya yang disebut mampu menyembuhkan segala penyakit. Sesakti itukah? Juga banyak gosip miring soal keaslian dan halal-haram.

Alasan awal pembuatan minyak kutus-kutus yang dibuat oleh Servasius Bambang Pranoto adalah untuk konsumsi pribadi dan tidak dikomersilkan. Sebab, awalnya ia hanya ingin sembuh dari penyakit yang saat itu diidapnya.

Saat mengidap kelumpuhan dan tak kunjung membaik, pria paruh baya ini kemudian meracik minyak herbal yang berasal dari 49 bahan tanaman dan diberi nama kutus-kutus.



Dalam perjalanannya, tiba masa saat minyak kutus-kutus yang ia buat sendiri ditawarkan pada rekannya yang sedang sakit. Mereka mengklaim sembuh dari penyakit karena memakai minyak kutus-kutus Bali tersebut.

Klaim 'menyembuhkan' segala penyakit

Beberapa penjual mengklaim minyak kutus-kutus layaknya 'minyak sakti' yang khasiatnya mampu menyembuhkan segalam macam penyakit mulai dari diabetes bahkan kanker. Namun menurut Pranoto, kutus-kutus sebenarnya tidak menyembuhkan penyakit secara langsung. Khasiat minyak ini merangsang tubuh untuk menyembuhkan diri secara spesifik.

"Kalau dibilang bisa menyembuhkan kanker, ya karena tubuh punya kemampuan untuk menyembuhkan kanker," jelasnya.

"Kutus-kutus, kita di-trigger untuk membangunkan kekuatan penyembuh," tambah Pranoto.



Versi palsu banyak beredar

Ada pula kesimpangsiuran yang dibincangkan oleh masyarakat mengenai apakah produk kutus-kutus yang mereka beli merupakan produk asli atau tidak.

Sebagai pembuat minyak kutus-kutus, Pranoto mengatakan memang ada oknum yang berusaha meniru dan menjual kutus-kutus palsu. Ciri produk palsu yang ia sebut adalah ketika harganya lebih murah.

"Standar saya antara palsu dan tidak, kalau harganya tidak Rp 230.000 itu pasti palsu dan lebih murah," ujarnya.



Mantra dan halal-haram

Juga, banyak yang membahas mengenai cara pembuatan minyak kutus-kutus. Beberapa pihak menganggap minyak kutus-kutus menggunakan mantra tertentu sehingga mampu sembuhkan penyakit.

Karena itu, banyak pula yang mempertanyakan mengenai kehalalan produk minyak kutus-kutus Bali ini. Wajar, sebab mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

"Memang biasa terjadi di Indonesia, ada dukun-dukun yang mengucap mantra. Tapi pembuatan kutus-kutus tidak seperti itu. Memang tampang saya rada-rada kayak dukun jadi dikiranya pakai mantra padahal tidak," tambahnya.

Juga soal tudingan haram, ia hanya menegaskan bahwa dirinya sudah mengantongi sertifikat halal dari MUI.

(kna/up)