Minggu, 14 Apr 2019 18:25 WIB

Senjata Manusia Silver: Cat Sablon, Minyak Tanah, Sabun Cuci Piring

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ikhsan si Manusia Silver di Bekasi. Foto: Rosmha Widiyani/detikHealth Ikhsan si Manusia Silver di Bekasi. Foto: Rosmha Widiyani/detikHealth
Jakarta - Menjadi Manusia Silver, Ikhsan yang kepada detikcom mengaku berusia 18 tahun punya 3 senjata andalan saat beraksi. Senjata terdiri atas cat sablon, minyak tanah atau minyak goreng, dan sabun cuci piring. Menjalankan aksi selama 12 jam di Jl. KH Noer Ali kolong jalan tol Becak Kayu, Ikhsan mengatakan tak mengalami gangguan fisik, mental, atau gangguan berarti.

"Pake cat sablon buat ngewarnain badan yang dicampur minyak tanah atau minyak goreng. Kalo minyak tanah warnanya jadi terang, tapi pake minyak goreng hasilnya cenderung gelap. Ini saya pake minyak tanah yang terus dilumurin di badan tiap mau jadi Manusia Silver. Cat perlu lebih banyak kalau bagian tubuh yang diwarnain makin luas," kata Ikhsan.

Rasio antara cat dan minyak tanah atau minyak goreng yang digunakan untuk jadi Manusia Silver sekitar 50 persen. Ikhsan menggambarkan perbandingan cat dan minyak dengan celah antara jempol dan jari telunjuk. Untuk memberi gambaran minyak tanah atau minyak goreng yang digunakan, Ikhsan membuka lebar celah antara dua jari tersebut. Celah tersebut berkurang separuh saat menggambarkan keperluan cat untuk menjadi Manusia Silver.



Tempat para manusia silver mencampurkan 'senjata' mereka. Tempat para manusia silver mencampurkan 'senjata' mereka. Foto: Rosmha Widiyani/detikHealth


Seluruh tubuh Ikhsan tak luput dari campuran cat sablon dan minyak tanah. Ujung bibir, telinga, hingga rambut Ikhsan tidak ada yang terlewat guyuran cat silver. Namun Ikhsan sengaja tak mewarnai giginya campuran tersebut. Menurut remaja sulung dari 4 bersaudara ini, dia khawatir gigi yang diwarnai akan berubah kekuningan yang tidak enak dilihat mata.

Hasil campuran kemudian dimasukkan dalam botol yang diselipkan di kantung celana saat beraksi. Campuran biasa kembali digunakan saat cat mulai luntur atau seperti meleleh di bawah sinar matahari. Ikhsan tak punya standar waktu khusus saat dirinya harus menggunakan kembali campuran tersebut. Namun ketika istirahat saat lelah, Ikhsan biasa melihat kembali lumuran cat di tubuhnya.

Ikhsan mengaku biasa beraksi mulai pukul 11.00 hingga 22.00 atau 23.00 bergantung dari ramainya jalan tempatnya mangkal. Saat ditemui, kondisi jalan tepat di samping tol tersebut tengah macet parah. Sebagian ada yang mengulurkan uang kertas atau logam, namun yang lain memilih tak menurunkan kaca jendela mobilnya. Sebagian pengendara mobil ada yang menengok atau melirik dengan ekor mata, tapi tak jarang juga yang menampilkan wajah acuh.


Saat aksinya telah selesai, Ikhsan tentu harus membersihkan badan sebelum tidur atau melakukan kegiatan lain. Ikhsan mengatakan tak sulit membersihkan cat yang masih menempel di tubuh. Dia biasa menggunakan sabun cuci piring aneka merk yang cukup efektif membersihan paduan cat sablon dan minyak tanah atau minyak goreng. Cairan tersebut digunakan layaknya sabun cair untuk mandi.

"Gampang kok bersihinnya. Bisa pake sabun cuci piring merk apa aja soalnya sama-sama bisa bersihin. Digosok-gosok gitu aja ntar juga ilang. Nggak bikin kulit perih, melepuh, atau gatel. Buat rambut juga sama pake sabun cuci piring. Abis cat ilang baru mandi kaya biasa," kata Ikhsan yang sehari-hari mengaku masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) tidak jauh dari rumahnya di wilayah Caman, Kota Bekasi.

Menurut Ikhsan, hingga saat ini dia belum merasakan perubahan kondisi kulit akibat penggunaan cat sablon. Ikhsan mengatakan belum punya rencana terkait berapa lama akan menjadi Manusia Silver. Namun sekarang pekerjaan tersebut bisa membantu memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari.

(Rosmha Widiyani/up)
News Feed