Senin, 20 Mei 2019 11:58 WIB

Banyak yang Kesal dengan Ending Game of Thrones, Post Series Depression?

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Apa itu Post Series Depression? Foto: (dok.HBO) Apa itu Post Series Depression? Foto: (dok.HBO)
Jakarta - AWAS SPOILER! -- Tidak dianjurkan untuk meneruskan membaca bagi kamu yang belum menyaksikan Game of Thrones Season 8 episode final.

'Game of Thrones' berakhir, namun pro dan kontra mengenai seberapa 'gregetnya' ending dari film tersebut menjadi ramai di media sosial.

Jika sebelumnya kamu memprediksikan Jon Snow atau Daenerys Targaryen yang akan menaiki tahta, harapan itu justru pupus. Kaget nggak, begitu Bran yang menjadi raja? Atau kalau kamu percaya prediksi pemilik mata hijau yang akan dibunuh oleh Arya Stark (spekulasinya Dany atau Cersei) tapi jawabannya bukan keduanya.

Istilah Post Series Depression (PSD) kerap muncul ketika sebuah film series mencapai ujung cerita. Nah, kalau merasa kesal dengan ending Game of Thrones, apakah bisa dibilang kamu mengalami Post Series Depression? Kepada detikHealth, Kantiana Taslim, MPsi, Psikolog, Psikolog Klinis di Personal Growth menjelaskan mengenai hal tersebut.


"Istilah post series depression tampak banyak digunakan oleh banyak orang. Dalam dunia psikologi sendiri, jika ditinjau berdasarkan penelitian yang ada atau teori gangguan, istilah tersebut bukanlah suatu istilah psikologi yang 'resmi'. Namun, menjadi menarik karena istilah tersebut muncul dari pengalaman dan fenomena masyarakat," kata psikolog yang akrab disapa Nana ini.

Post series depression dapat dikatakan sebagai suatu kondisi, kekecewaan yang muncul pada diri kita setelah mengalami suatu kejadian besar yang ditunggu-tunggu. Nah, ending dari sebuah film series (yang mungkin tidak sesuai harapan) adalah penyebabnya.

Kondisi tersebut biasanya sih bersifat sementara. Akan tetapi ketika seseorang mengalaminya, mereka merasakan perasaan tidak puas, lelah, energi dan emosi seperti terkuras, dan juga rentan mempertanyakan segala hal tentang dirinya atau berbagai situasi yang terjadi. Ada juga yang sampai merasa hidupnya seperti 'hampa'.

"Hal yang sepertinya menjadi kunci pemicu dari kondisi ini adalah suatu hal yang intense, telah berlangsung lama dan ditunggu-tunggu, namun kemudian berakhir secara tiba-tiba dan tanpa diduga," lanjut Nana.



Akan tetapi, karena situasi dan perasaan yang dialami mirip gejala dari depresi seperti sedih berkepanjangan, tidak bersemangat melakukan hal lain, merasa energi hilang, mood yang buruk, maka banyak orang yang menganggap bahwa hal yang dirasakan karena berakhirnya suatu serial televisi adalah depresi. Padahal belum tentu, loh.

"Hal yang perlu diingat adalah, sebaiknya tidak langsung menilai Anda atau orang-orang di sekitar Anda mengalami depresi jika setelah menonton serial televisi mengalami hal seperti itu. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, situasi dan perasaan yang muncul setelah berakhirnya suatu serial televisi biasanya bersifat sementara dan situasional," ujar Nana.

"Dikatakan situasional karena depressed mood yang muncul biasanya akan memudar seiring situasi yang berubah, dan bukan seperti gangguan depresi yang sifatnya cenderung menetap setiap (berlangsung minimal selama 2 minggu). Perlu ditinjau juga bahwa gangguan depresi merupakan hal yang lebih kompleks dan bukan semata-mata timbul dengan serial tv yang berakhir," tandasnya.

(ask/wdw)