Kamis, 23 Mei 2019 17:26 WIB

Sopir Bus untuk Pemudik Akan Jalani Skrining Kesehatan Jiwa

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Cek kesehatan di terminal Tirtonadi Solo (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom) Cek kesehatan di terminal Tirtonadi Solo (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Jakarta - Menjelang mudik Lebaran 2019 nanti, pihak Kementerian Kesehatan RI menyoroti soal kesehatan pengemudi. Pemeriksaan kesehatan pengemudi, khususnya pengemudi angkutan umum seperti bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) kini juga menjalani skrining kesehatan mental.

"Karena sebetulnya peminum obat-obatan terlarang itu kan ada masalah di jiwanya. Sehat fisik dan mental adalah persyaratan dasar," tutur Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, dr Bambang Widodo, SpOG(K), MARS dalam Temu Media Kesiapan Sektor Kesehatan dalam Penyelenggaraan Mudik Lebaran 2019 di Gedung Kemenkes, Kamis (23/5/2019).

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr Widyastuti, MKM mengatakan bahwa skrining kesehatan mental atau jiwa bagi pengemudi bus dilakukan menggunakan aplikasi khusus bernama E-Jiwa.

"Untuk jiwa kami di DKI kebetulan tahun lalu di bulan Januari kami ada aplikasi E-Jiwa itu untuk skrining, tapi bukan diagnosa, apakah seseorang mengalami masalah dengan kejiwaan," kata dr Widyastuti.

Indikator skrining akan ditunjukkan dengan warna merah, kuning, dan hijau. Dr Widyastuti menyebutkan jika indikator pengemudi tersebut berwarna hijau berarti aman dan akan ada pertanyaan tersendiri, jika kuning akan ada pendampingan dari tim kesehatan DKI Jakarta dan jika merah harus dirujuk ke faskes yang memiliki tenaga psikiater.



Pemeriksaan kesehatan akan dilakukan pada pengemudi dengan jarak tempuh cukup lama setidaknya lebih dari 4 jam atau mempunyai rute yang padat dan sering. Pemeriksaan ini juga diberlakukan pada pengemudi pengganti dalam satu armada, sebelum berangkat dari terminal induknya.

Pemeriksaannya meliputi tekanan darah, gula darah sewaktu, tajam penglihatan, konsumsi amfetamin dari tes urine dan alkohol melalui tes pernapasan. Setelah skrining tersebut, pengemudi akan diberikan rekomendasi oleh tim kesehatan, dan berdasarkan rekomendasi tersebut Dinas Perhubungan yang akan memberi keputusan apakah pengemudi tersebut layak atau tidak layak jalan.

dr Widyastuti menambahkan, dalam skrining bagi pengemudi di DKI Jakarta juga ada skrining TB atau tuberkolusis. Hal ini disebabkan tingginya angka pengidap dan kematian bahkan Indonesia sendiri menempati nomor tiga di dunia.

"Soalnya apa, seorang pengemudi dalam satu waktu yang lama, kurang lebih kan 6 jam ya, dalam tempat ber-AC, udaranya muter terus, kalau dia positif TB, dia akan menularkan ke penumpangnya," pungkas dr Widyastuti.

(frp/up)
News Feed