Jumat, 21 Jun 2019 08:40 WIB

Sunat Juga Bisa Gagal, Butuh Revisi Alias 'Sunat Ulang'

Widiya Wiyanti, Rosmha Widiyani - detikHealth
Sunat gagal biasanya karena kulit kembali menutup kepala penis. (Foto: iStock) Sunat gagal biasanya karena kulit kembali menutup kepala penis. (Foto: iStock)
Topik Hangat Si Kecil Minta Sunat
Jakarta - 'Sunat gagal' menjadi mimpi buruk tiap anak yang melakukan tindakan sirkumsisi atau memotong kulit ujung penisnya (kulup) demi menjaga kesehatan. Kegagalan bisa ditandai dengan kulit kulup yang kembali tumbuh, hingga nyaris menutup kepala penis.

Dalam prinsip sirkumsisi, kulit kulup harus terpotong mulai dari ujung hingga lingkaran di kepala penis (korona). Kondisi yang disebut sunat gagal bisa disebabkan berbagai faktor, misal burried penis atau penis yang tenggelam. Penis menjadi terlihat kecil karena tertarik ke dalam akibat tubuh yang terlalu gemuk.

Dokter biasanya menyarankan pasien burried penis yang akan disunat mendapat bius total. Selanjutnya, dokter akan menyunat dan menerapkan teknik recovery supaya penis tidak kembali tenggelam. Hasil sunat tentunya memenuhi prinsip sirkumsisi untuk kesehatan pasien.


Dokter ahli urologi dari Rumah Sakit St. Carolus Dr dr JC Prihadi Sp U mengatakan, situasi tersebut bisa dihindari salah satunya dengan memilih fasilitas kesehatan yang tepat untuk sunat. Kerja sama pasien yang tetap tenang selama operasi juga membantu tenaga kesehatan menyelesaikan proses sunat dengan baik.

"Kita menyebutnya bukan gagal ya, tapi kulit yang terpotong kurang banyak sehingga tidak sesuai prinsip sirkumsisi," kata dr Prihadi, dalam perbincangan dengan detikHealth.

Sementara itu, dokter spesialis bedah saraf dari Rumah Sunat, dr Mahdian Nur Nasution, SpBS menjelaskan bahwa teknik memotong kulup pada anak bertubuh gemuk berbeda dari biasanya. Jika pada anak normal bisa menggunakan teknik tanpa dijahit, lain halnya dengan burried penis, kulupnya harus dipotong sesuai marker atau tanda yang diberikan oleh tenaga medis.

"Diguntingnya harus ngukur dulu kulitnya berapa tebal berapa panjang. Kita juga asumsikan kalau sudah besar ereksi bagaimana berapa senti sisa kulitnya. Nah dari situ kita bikin marker kemudian dipotong sesuai dengan marker itu kemudian dijahit. Yang biasa nggak pakai marker. Kalau ini harus dijahit," jelasnya.

Kondisi burried penis tentunya hanya bisa dinilai oleh dokter yang memiliki kompetensi tersebut. Burried penis yang tidak terdeteksi cukup berisiko bagi pasien dan tenaga kesehatan yang melaksanakan sunat. Tenaga kesehatan kesulitan melakukan operasi, sementara pasien mulai merasakan nyeri akibat prosedur medis.


Penis Miring atau Melintir

Selain itu, penyebab sunat gagal bisa dikarenakan kondisi bawaan yang membuat penis miring. Kondisi penis yang seperti itu juga bisa menyulitkan petugas medis yang melakukan prosedur sunat.

"Jadi dia punya penis melintir, itu variasi normal. Itu ada penis yang rotasi. Kalau penis kan ke depan, nah dia enggak. Miring. Bawaan lahir. Itu menyulitkan waktu motongnya," kata dr Mahdian.

Sunat yang disebut gagal juga bisa terjadi karena rasa panik akibat kepala penis yang terpotong. Darah yang keluar berisiko mengakibatkan panik hingga prosedur sunat dipercepat meski hasilnya tidak maksimal.

"Karena itu sangat penting menerapkan teknik operasi yang tepat pada pasien sunat. Selain teknik operasi, cara menjahit luka juga menentukan keberhasilan sunat dan proses penyembuhannya," kata dr Prihadi.

(wdw/up)
Topik Hangat Si Kecil Minta Sunat