Jumat, 21 Jun 2019 16:39 WIB

Viral Video Anak-anak Perempuan Berseragam Sekolah Ngelem, Ini Bahayanya

Firdaus Anwar - detikHealth
Salah satu anak yang terekam sedang menghirup diduga lem. (Foto: Tangkapan layar Facebook) Salah satu anak yang terekam sedang menghirup diduga lem. (Foto: Tangkapan layar Facebook)
Jakarta - Di media sosial beredar video viral menunjukkan sekelompok anak perempuan berseragam sekolah sedang menghirup botol diduga berisi lem. Tampak tiap anak memegang botol masing-masing yang didekatkan ke hidungnya.

"Sunggah sangat menyedihkan generasi qt sekarang... Mohon bisa jadi perhatian bagi qt semua khususx bagi orang tua yg memiliki anak yg sudah menginjak remaja agar dapat bekerja sama dengan bapak dan ibu gurux untuk lebih ekstra hati2 dalam menjaga, membimbing dan memantau anakx agar dapat terhindar dari hal2 qt tdk inginkan brsama, seperti halx video yg sudah qt saksikan diatas," tulis salah satu pengguna Facebook yang ikut menyebarkan video.

Aktivitas menghirup lem atau populer disebut ngelem ini biasanya dilakukan sebagai cara menyalahgunakan zat lem untuk mendapatkan sensasi 'high' atau mabuk. Efeknya hampir mirip dengan jenis narkoba yang lain yakni menyebabkan halusinasi, sensasi melayang-layang dan rasa tenang sesaat meski kadang efeknya bisa bertahan hingga 5 jam sesudahnya.


Namun yang perlu diketahui menghirup uap lem sangat berbahaya, sebab pada kadar tertentu bisa menyebabkan mati mendadak.

Salah satu komponen dalam inhalant yang berbahaya adalah pelarut solvent, yakni cairan yang dalam suhu ruangan mudah sekali menguap. dr Hari Nugroho dari Institute of Mental Health Addiction And Neurosience (IMAN) menjelaskan solvent yang sama bisa ditemukan pada cat hingga spidol.

Ketika terhirup, uap pelarut ini hanya membutuhkan waktu yang singkat untuk mencapai kadar toksik atau beracun. Sistem organ yang diserang adalah otak dan saraf, khususnya yang berhubungan dengan jantung dan pernapasan.

"Dalam jangka panjang bisa bikin gangguan di organ-organ tubuh seperti liver, ginjal, gangguan pendengaran, dan gangguan perkembangan karena gangguan otak," pungkas dr Hari.

(fds/up)
News Feed