Senin, 24 Jun 2019 07:11 WIB

Harry Suryapranata, Ahli Jantung Indonesia yang Dapat Penghargaan di Dunia

Widiya Wiyanti - detikHealth
Prof Dr Harry Suryapranata. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth Prof Dr Harry Suryapranata. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth
Jakarta - Seorang ahli kardiologi Indonesia, Prof Dr Harry Suryapranata mengukir namanya menjadi orang Indonesia yang berkarya di kancah dunia. Baru-baru ini, ia diberi penghargaan tertinggi yaitu Ridder in de Orde van de Nederlandse Leeuw atau Knight in the Order of the Netherlands Lion dari Kerajaan Belanda.

Ditemui detikHealth, Prof Harry bercerita bahwa untuk mendapatkan penghargaan tertinggi itu bukanlah perjalanan yang singkat. Penghargaan itu diberikan atas dedikasinya menjadi orang pertama bersama rekannya melakukan tindakan pemasangan ring jantung pada pasien serangan jantung.

"Awal 90-an, kita melakukan stent (ring jantung) itu pada pasien dengan penderita akut infark atau serangan jantung. Pada saat itu, kematian serangan jantung 20 persen di rumah sakit. Dulu pasien serangan jantung masuk rumah sakit didiamkan suruh istirahat selama 2 minggu, itu kematiannya 20 persen. Jadi 1 dari 5 keluarnya digotong bukan jalan," ujarnya di RS Jantung Diagram, Cinere, Depok, baru-baru ini.

"Kita percaya kalau pasien-pasien ini dilakukan stent atau balon itu akan menyelamatkan nyawanya karena serangan jantung disebabkan oleh tiba-tiba tersumbatnya salah satu dari pembuluh darah koroner," lanjutnya.

Prof Harry bersama rekannya untuk pertama kali membuktikan bahwa tindakan pemasangan ring jantung pada pasien serangan jantung dapat menyelamatkan nyawa. Tindakan itu pun bisa menurunkan angka kematian akibat serangan jantung, dari 20 persen menjadi 2 persen apabila cepat dilakukan.



Semua kasus yang ditanganinya dilaporkan dan dipublikasi dalam The New England Journal of Medicine. Sayangnya, berkali-kali Prof Harry dikecam oleh dunia karena tindakannya itu dinilai tidak sesuai dengan etis kedokteran.

"Waktu dunia gempar, kami dikecam sebagai koboi-koboi yang melakukan tindakan tidak etis pada penderita yang sakit. Dulu orang sakit kok dioperasi, itu kriminal namanya. Tahun 1993, itu kami dikecam. Akhirnya kami propaganda ke mana-mana, beri lecture, dari satu studi ke studi lain kami publish terus sampai kami menunjukkan time window itu very important, kami membuktikan bahwa semakin cepat dilakukan (pemasangan ring jantung) maka semakin banyak yang diselamatkan. Kalaupun selamat jantungnya bisa tidak rusak," ceritanya.

Perjalanan panjangnya pun berbuah manis, pada tahun 2006 lalu akhirnya penemuannya itu diterima dunia kesehatan, terutama jantung dan pembuluh darah. Prof Harry pun mendapatkan penghargaan Andreas Grunzing dari European Society of Cardiology dan World Congress of Cardiology di Barcelona.

Penghargaan yang didapatnya pun diberikan atas jasanya menjadi seorang pendidik dan pelatih para kardiolog di Eropa dan Asia. Ia mengatakan bahwa masih banyak mimpi-mimpinya untuk kemajuan dunia kesehatan, terutama jantung dan pembuluh darah yang merupakan spesialisasinya.

Prof Harry mengharapkan Indonesia bisa mengadopsi banyak ilmu kesehatan dari luar dan menerapkannya di negeri tercinta ini, serta bisa membonceng teknologi untuk memajukan bidang kesehatan. Sehingga masyarakat Indonesia lebih percaya berobat di dalam negeri dibandingkan di luar negeri.

"Mimpi saya akan namakan cardiac command center seperti tentara lah. Kita bisa memberikan fasilitas call center kepada semua yang membutuhkan. Mulailah dulu dengan saudara-saudara sendiri untuk mempelajari penyakit anak-anaknya, apa problemnya, kalau sudah jadi kita tinggal copy paste kemana-kemana," harapnya.

Prof Harry masih aktif dalam beberapa riset hingga kini melalui International Research Institute yang dibangun dan dipimpinnya sejak tahun 1996. Serta telah mendirikan RS Jantung Diagram di Cinere pada tahun 2006.

(wdw/up)
News Feed