Sabtu, 06 Jul 2019 12:21 WIB

Dilema Kol Goreng, Kenapa Selalu Enak Meski Nggak Sehat?

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi kol goreng. Foto: Istimewa Ilustrasi kol goreng. Foto: Istimewa
Jakarta - Risiko makan gorengan, termasuk kol goreng dan sayur goreng lainnya seperti terong dan bayam goreng, mungkin sudah diketahui hampir semua orang. Namun tidak mudah menolak makanan yang selalu terasa enak, crunchy, dan gurih ini.

Menurut ahli gizi olahraga dan kebugaran Mochammad Rizal dari Indonesia Sport Nutritionist Association (ISNA), enaknya gorengan dikarenakan tingginya kandungan lemak dalam asupan. Selain kandungan lemak, menggoreng dengan suhu tinggi mengubah tektur makanan menjadi renyah.

"Makanan berlemak memang cenderung lebih gurih dibandingkan dengan karbohidrat dan protein. Gurih dan renyah, belum lagi MSG yang ditambahkan dalam makanan atau adonan tepungnya. MSG ikut berperan menyebabkan gorengan terasa gurih," kata Rizal pada detikHealth.



Lemak dalam minyak yang terlalu panas bisa berubah bentuk menjadi lemak trans. Rizal mengatakan, lemak trans dapat meningkatkan risiko berbagai macam penyakit misal jantung koroner dengan meningkatkan lemak jahat atau Low Density Lipoprotein (LDL) dan menurunkan lemak baik atau High Density Lipoprotein (HDL).

Dampak buruk makan gorengan yang dimasak dengan banyak minyak berlaku untuk semua bahan, termasuk sayuran yang punya kandungan nutrisi lengkap. Makan gorengan terlalu sering tidak disarankan untuk menjaga kesehatan tubuh. Bila ingin makan gorengan, sebaiknya pilih metode sautee yang tidak menggunakan terlalu banyak minyak.

Nah, kalau detikers tim kol segar atau kol goreng nih?



Simak Video "Ketika Anak Beranjak Remaja Minum ASI, Apa Efeknya?"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/wdw)