Selasa, 16 Jul 2019 14:42 WIB

Istri Nekat Bacok Suami, Baby Blues atau Depresi Postpartum? Ini Bedanya

Nabila Ulfa Jayanti - detikHealth
Baby blues bisa berkembang menjadi depresi postpartum. (Foto: Thinkstock) Baby blues bisa berkembang menjadi depresi postpartum. (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Kasus Aminah (43) yang membacok suaminya sendiri, Maman (47), di Sukabumi sudah ditangani polisi. Menurut keterangan Aminah mengalami baby blues, merasa tertekan karena dituntut untuk berhubungan badan usai melahirkan anak ketika dua bulan lalu.

"Aksi itu dia lakukan sebagai akumulasi kekesalan kepada suaminya. Dalam kondisi tidak sadar sampai akhirnya nekat melakukan aksi itu," kata Kapolres Sukabumi AKBP Nasriadi.

Menanggapinya psikolog keluarga Nuzulia Rahma menjelaskan bahwa bila seorang ibu sampai menyakiti diri sendiri atau orang lain kemungkinan bukan sekadar baby blues. Menurut Nuzulia baby blues biasanya hanya sampai pada tahap perubahan emosi, mudah sedih atau marah, dan berlangsung paling lama satu bulan.


"Itu bisa postpartum depression atau postpartum psikosis," kata Nuzulia mengomentari kasus.

Baby blues sendiri menurut studi di jurnal Advances in Neonatal Care 2003 sebetulnya cukup umum bisa terjadi pada 80 persen ibu baru melahirkan. Menurut Nuzulia hal ini bisa terjadi karena faktor perubahan hormon.

"Kalau baby blues keadaan yang normal karena perubahan hormon pasca melahirkan. Sedih kemudian sering menangis, mudah marah. Kalau kita hamil tentu ada perubahan hormon kan," kata Nuzulia.

Seorang ibu bisa juga rentan terhadap baby blues karena faktor lingkungan sosial. Ekspektasi hingga konflik yang diberikan orang-orang kepada seorang ibu bisa menjadi tekanan mental menyebabkan stres.

Terakhir tidak menutup kemungkinan faktor psikologis dari sang ibu sendiri, misalnya punya trauma melahirkan.



Simak Video "Kata Dokter Jiwa soal Ramai 'Keluhan' Pasca Nonton Joker"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)