Rabu, 17 Jul 2019 06:19 WIB

Risiko Silent Stroke Bisa Dideteksi, Ini Tes yang Perlu Dilakukan

Kintan Nabila - detikHealth
Meski tak bergejala, silent stroke bisa sangat berbahaya (Foto: iStock) Meski tak bergejala, silent stroke bisa sangat berbahaya (Foto: iStock)
Jakarta - Serangan silent stroke memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk sembuh. Karenanya penting untuk melakukan deteksi dini, sebelum penyakit menjadi semakin kronis dan menimbulkan komplikasi.

Dokter spesialis saraf dari RS Pusat Otak Nasional (RS PON), dr Silvia Francina Lumempoew, SpS(K) mengatakan, apabila sudah ada kerusakan di otak maka tidak dapat dinormalkan lesi lesi diotak tersebut.

"Bila masih muda cek kesehatan 1 tahun sekali, jika mulai terlihat sudah ada faktor risiko tentu segera lakukan brain check up," katanya pada detikHealth.



Berikut saran dari dokter Silvia mengenai medical check up yang dapat dilakukan untuk mengetahui adanya silent stroke atau kemungkinan penyakit lain :

1. Pemeriksaan fisik dan neurologis
2. Pemeriksaan darah lengkap
3. MRI otak
4. Periksa EKG jantung sampai di Echocardiography untuk mencari adakah kelainan di jantung
5. TCD tes untuk memeriksa kecepatan aliran darah di pembuluh darah otak dan CD tes untuk di pembuluh darah di leher. Adakah plak plak yang menyempitkan dinding pembuluh darah.
6. Test Neurobehavior untuk menilai adakah penurunan fungsi kognitif atau perubahan tingkah laku

Silent stroke sebenarnya bisa dicegah sejak dini. Caranya adalah, mulai menerapkan pola hidup sehat contohnya hindari mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan rutin berolahraga. Kemudian lakukan tes kesehatan.

"Makan makanan sehat yang tidak meningkatkan kolesterol, olahraga rutin 30 menit setiap hari, berobat teratur bila menderita darah tinggi dan diabetes, lalu check up kesehatan rutin untuk memeriksa darah adakah yang tidak normal," pungkasnya.



Simak Video "Cerita Penulis Vabyo Kena Stroke di Usia 35 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)