Rabu, 17 Jul 2019 07:35 WIB

Deretan Efek Samping dan Risiko Akibat Filler, Bengkak hingga Kebutaan

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Suntik filler tidak bisa sembarangan dilakukan. (Foto: Thinkstock) Suntik filler tidak bisa sembarangan dilakukan. (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Suntik filler merupakan prosedur menyuntikkan substansi gel kepada permukaan kulit untuk menambah 'volume' pada daerah yang diinjeksikan sehingga tampak berisi atau menyamarkan keriput. Filler belakangan ini menjadi tren tersendiri setelah banyak dilakukan oleh sejumlah selebriti.

"Treatment estetik itu sendiri pada dasar pilarnya adalah sebetulnya kita perawatan, karena dengan kulit yang bagus, kulit yang sehat, kepercayaan diri juga akan meningkat. Inilah betapa pentingnya bungkus tubuh kita yakni kulit kita," tutur dr Dikky Prawiratama, SpKK, pada Selasa (16/7/2019).

Tentu saja semua prosedur medis memiliki efek samping dan risiko tertentu. Oleh karena itu dr Dikky, sapaannya, selalu mengingatkan untuk memilih produk, klinik, dan dokter yang baik serta profesional untuk meminimalisir hal tersebut.


Selain itu, dokter juga harus selalu memberikan inform consent atau informasi pada pasien sebelum melakukan suatu tindakan. Misalnya, dr Dikky mencontohkan bahwa ia selalu akan menjelaskan kemungkinan dari yang paling ringan hingga yang paling buruk ketika melakukan injeksi filler.

"Jadi skill kita pengetahuan anatomi itu terpakai agar dapat meminimalisir efek samping. Dan juga memilih produk yang tepat yang sudah terdaftar BPOM karena pasti produknya sudah menampilkan efek samping yang bisa terjadi. Karena saat menyuntik kita nggak melihat pembuluh darah di bawah ini, kita hanya mengandalkan pengalaman dan pengetahuan kita. Rasanya kayak nembak tapi merem," lanjutnya.

Apa saja efek samping dan risiko yang bisa terjadi akibat suntik filler? detikHealth telah merangkumnya sebagai berikut, mulai dari yang ringan hingga berat:


1. Bengkak
Kemungkinan paling ringan tentu saja bengkak di tempat yang diinjeksi. Hal ini disebabkan oleh sifat asam hyaluronat (salah satu substansi gel dalam suntik filler) memiliki kemampuan untuk menarik air 1000 kali lebih dari berat aslinya.

"Jadi kalau misalnya nih, ibu hamil terus kadang karena perubahan hormon terus dia disuntik (filler) lalu bengkak. Atau wanita lagi bloating mau PMS terus dilakukan injeksi filler ya otomatis edema, bengkak karena penarikan air ini," lanjut dr Dikky.

2. Lebam
Kemudian lebam, yang diakibatkan karena penggunaan jarum untuk menginjeksi mengenai salah satu pembuluh darah di wajah dan otomatis bisa menyebabkan memar atau lebam. Oleh karena itu kadang sebelum ia melakukan suntik filler, terlebih dahulu ia menanyakan apakah si pasien punya acara penting dalam 1-2 minggu lagi.

"Makanya selalu tanya, 1-2 minggu lagi ada acara penting tidak? (Karena) area di bawah mata sangat delicate, yang banyak pembuluh darah. Bengkak dan lebam bisa diatasi dengan mengompres area yang bengkak," katanya.

3. Kematian jaringan
Efek samping selanjutnya adalah kematian jaringan. Jika substansi filler masuk ke dalam pembuluh darah arteri yang memperdarahi suatu area, maka yang terjadi adalah suplai darah terhambat parsial atau sepenuhnya dan menyebabkan kematian jaringan atau necrosis.

Menurut dr Dikky, jika ini terjadi maka yang harus dilakukan adalah menghancurkan si filler yang menghambat arteri. Inilah pentingnya mengapa harus menanyakan apakah sang dokter memiliki hyaluronidase atau antidote (penawar) asam hyaluronat untuk membantu menghancurkan filler.


4. Facial overfilled syndrome
Facial overfilled syndrome ditunjukkan dengan (umumnya) wajah yang terlihat aneh atau tak wajar akibat terlalu berlebihan melakukan suntik filler. Biasanya disebabkan oleh faktor psikis pasien yang sudah tidak terlalu baik, lalu bertemu dengan dokter yang kurang baik pula.

Dalam praktiknya, dr Dikky selalu mengutamakan global assessment terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan. Apakah memang ia memerlukan filler di area yang ia minta atau tidak, untuk menghindari efek 'ketagihan' filler.

"Ada pasien saya yang ketagihan seperti itu, maka tugas saya adalah edukasi. 'Ini sudah nggak ada masalah, bagaimana kalo kita memperbaiki yang lain?' Jangan digenjot terus di satu tempat sampai ada istilahnya overfilled syndrome," tegasnya.

5. Kebutaan
Yang paling parah adalah kebutaan. Misalnya yang terkena adalah arteri yang menyuplai darah ke retina atau saraf mata, maka sangat berisiko menyebabkan kebutaan.

Padahal, jaringan mata tidak bisa hidup lebih dari satu jam tanpa ada suplai darah yang cukup. Kebutaan umumnya terjadi saat orang melakukan filler di area wajah, jelas dr Dikky.

"Sebagian besar request filler itu di wajah. Saya sebagian besar hampir 90 persen itu wajah. Paling banyak pertama filler yang saya kerjakan itu filler hidung, kedua itu pipi, ketiga dagu, keempat bawah mata."



Simak Video "Obat Maag Ranitidin Ditarik, BPOM Umumkan Daftar Obat Pengganti"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)