Kamis, 18 Jul 2019 16:31 WIB

Bullying atau Memang Sedang Berantem? Ini 3 Kriteria yang Membedakannya

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi bullying. Foto: istock Ilustrasi bullying. Foto: istock
Jakarta - Perundungan atau yang kerap disebut bullying memang marak terjadi di Indonesia. Baru-baru ini kasus bullying terjadi pada proses Masa Orientasi Siswa (MOS) yang berakhir dengan meninggalnya siswa SMA Taruna di Palembang.

Karena marak terjadi, banyak orang yang asal sebut bullying pada segala tindakan yang bisa merugikan orang lain. Padahal menurut psikolog dari RS Pondok Indah, Jane Cindy Linardi, MPsi, Psikolog, bisa jadi tindakan-tindakan tersebut hanya sebuah konflik.

"Bullying itu adalah tindakan oleh individu atau kelompok yang merasa lebih kuat untuk menyakiti, mempermalukan, menindas seseorang," ujarnya saat ditemui di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (18/7/2019).

"Tapi sekarang trennya orang tua terlalu cepat anggap anaknya terkena bullying, padahal hanya terdapat konflik. Kalau konflik, pelaku tidak berniat menindas," lanjut Jane.



Jane menambahkan, ada tiga syarat suatu perilaku dapat dikategorikan sebagai tindakan bullying. Yang pertama adalah pelaku berniat untuk menyakiti atau menindas korban. Kedua, adanya ketidakseimbangan kekuatan, baik secara fisik maupun popularitas.

"Biasanya pelaku kan yang populer di sekolah, koneksinya banyak. Kalau konflik, kekuatannya seimbang," imbuhnya.

Syarat yang ketiga adalah bullying biasanya dilakukan secara berulang-ulang dan biasanya tanpa jeda yang lama. Sementara konflik biasanya terjadi sesekali dan dengan jeda yang cukup lama.




Bullying atau Memang Sedang Berantem? Ini 3 Kriteria yang Membedakannya


Simak Video "Kata Psikolog Soal Perilaku Bully"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)
News Feed