Senin, 22 Jul 2019 16:30 WIB

Meski Tampak Sehat, Pecandu Narkoba Berisiko Tinggi Alami Kanker Hati

Rosmha Widiyani - detikHealth
Nunung disebut-sebut tidak tampak seperti pecandu narkoba (Foto: Palevi S/detikFoto) Nunung disebut-sebut tidak tampak seperti pecandu narkoba (Foto: Palevi S/detikFoto)
Jakarta - Jangan terkecoh ketika melihat pecandu narkoba tampak 'sehat-sehat saja'. Pemakai narkoba jenis sabu atau methamphetamine memang tidak kelihatan sakit dari luar, tetapi tetap berisiko mengalami kerusakan hati seperti pemakai jenis narkoba lainnya.

Kerusakan organ dan fungsi ini diawali pengerasan hati atau biasa disebut sirosis. Bila berlanjut, kondisi ini bisa berkembang menjadi kanker hati.

"Risikonya lebih besar pada pengguna narkoba suntik dibanding yang dihirup atau ditelan langsung. Biasanya butuh 25-30 tahun, tapi untuk pengguna narkoba hanya perlu 5 tahun," kata Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Dr dr Andri Sanityoso Sulaiman, SpPD-KGEH pada temu media eliminasi hepatitis di Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (22/7/2019).



Cepatnya korban narkoba mengalami kanker hati disebabkan terjadinya infeksi 2 virus bersamaan. Penggunaan jarum suntik, apalagi yang bergantian, berisiko terinfeksi HIV (Human Imunodeficiency Virus) serta Hepatitis B dan C. Virus tersebut mengakibatkan sirosis hingga terjadi kanker hati.

Virus Hepatitis B bahkan bisa langsung mengakibatkan kanker, tanpa perlu melalui sirosis. Menurut dr Andri, virus Hepatitis B menyerang langsung inti sel hati sehingga kerusakan yang ditimbulkan lebih berat. Hal ini berbeda dengan virus lain yang menyerang sel sekitar inti sehingga kerusakan terjadi bertahap.

Mudahnya korban narkoba suntik terkena sirosis dan kanker hati juga diakibatkan cara konsumsinya. Zat dimasukkan langsung ke dalam darah yang memudahkan virus menginfeksi tubuh korban narkoba.



Simak Video "Flakka, Narkoba yang Bikin Penggunanya Jadi 'Zombie'"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)