Selasa, 23 Jul 2019 05:15 WIB

Round-Up

Tampak Luar 'Sehat-sehat Saja' Tak Tahunya Pemakai Sabu

Widiya Wiyanti - detikHealth
Seorang pecandu narkoba tak selalu tampak kurus dan acak-acakan (Foto: Palevi S/detikFoto) Seorang pecandu narkoba tak selalu tampak kurus dan acak-acakan (Foto: Palevi S/detikFoto)
Jakarta - Tampaknya sebagian besar rekan dan kerabat tak pernah menduga bahwa Nunung adalah seorang pengguna narkoba. Komedian berusia 56 tahun itu terlihat gemuk bahkan tetap produktif dalam berkarya menjadi komedian sehari-hari.

Yang dialami Nunung bertolak belakang dari apa yang sering dikenali orang awam sebagai ciri-ciri pecandu narkoba, seperti tubuh kurus, mata beler, ataupun kesulitan fokus pada satu atau beberapa hal.

Menurut praktisi kesehatan jiwa dari Universitas Krida Wacana, dr Andri, SpKJ, FACLP, efek dari penggunaan narkoba memang tergantung pada jenis narkoba yang dikonsumsi. Jenis sabu merupakan jenis obat stimulan yang efeknya berlawanan dengan jenis heroin atau ganja.

"Sebenarnya itu terkait dengan jenis penggunaan narkoba yang sifatnya kayak heroin atau dulu namanya putau disebutnya, atau juga ada jenisnya kayak ganja, nyelonjor saja dia, rileks, beler, itu juga salah satu yang sering jadi masalah dulu," ujarnya kepada detikHealth, Senin (22/7/2019).



Sementara sabu yang termasuk golongan obat stimulan biasa digunakan seseorang untuk membangkitkan mood menjadi euforia dan merasa senang, serta dapat meningkatkan konsentrasi dan kepercayaan diri.

Sayangnya, itu hanya efek sementara dari sabu. dr Andri mengatakan, penyalahgunaan sabu sangat berbahaya bagi tubuh karena sabu langsung memengaruhi sistem saraf pusat di otak.

"Tentu bahaya sekali, jika nantinya terlalu banyak, orang itu bisa mengalami gejala depresi, agitasi (perasaan jengkel, kesal, dan gelisah) dan juga menjadi perilaku kekerasan itu bisa mentriger," jelasnya.

Bahkan Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) dr Shilvya Febrina Irawan, MSi menjelaskan dampak ketergantungan sabu bisa mengakibatkan kerusakan organ dan kematian.

"Karena itu, jangan pernah mendekati sabu dan narkoba jenis lain. Tuntutan tampil baik ada di semua profesi, namun efek narkoba tidak lama karena pada akhirnya tubuh tetap merasa lelah. Konsumsi satu kali, penasaran, cuma coba-coba berisiko menimbulkan ketergantungan yang bisa mengakibatkan kematian," kata dr Shilvya.



Dengan efek seperti itu, jelas para pecandu sabu tidak menampakkan tanda-tanda bahwa mereka menggunakan zat-zat adiktif tersebut. Sabu mengandung metamfetamin, turunan dari zat amfetamin yang termasuk obat golongan stimulan yang dalam penggunaannya bisa membuat seseorang menjadi lebih percaya diri juga merasa lebih senang. Dalam praktiknya, sabu juga digunakan untuk menambah stamina, terutama untuk bekerja.

Pecandu dengan efek seperti itu disebut high-functioning addicts, di mana para pecandu justru bekerja atau berfungsi lebih baik jika menggunakan obat-obat golongan stimulan, seperti efedrin, amfetamin, kokain, metilfenidat, MDMA, dan modafinil.

"Orang-orang yang menggunakan ini (obat golangan stimulan -red) mengira kok jadi pede, jadi bisa melakukan seustau, mau menggunakan ini dengan penggunaan banyak. Kondisi ini yang menjadi bermasalah ke depannya. Ppenggunaannya tidak tepat, suka-suka, tidak sesuai dengan kondisi dia. Akhirnya menjadi masalah," tegas dr Andri.



Simak Video "dr. Vito A. Damay, Dokter Jantung yang Gantengnya Bikin Deg-degan"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)