Senin, 29 Jul 2019 07:12 WIB

Polusi DKI Terburuk, Ini 5 Tips Agar Paru-paru Tidak 'Ambyar'

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Polusi udara di DKI Jakarta dikategorikan tidak sehat belakangan ini (Foto: Pradita Utama) Polusi udara di DKI Jakarta dikategorikan tidak sehat belakangan ini (Foto: Pradita Utama)
Jakarta - Pagi ini, polusi udara di DKI Jakarta kembali menempati peringkat teratas kota dengan polusi paling buruk menurut AirVisual. Dengan skor 186, kualitas udara di Jakarta masuk kategori tidak sehat.

AirVisual juga memberikan beberapa rekomendasi, salah satunya untuk membatasi aktivitas luar ruangan. Partikel debu dan gas berbahaya memang berdampak pada kesehatan paru-paru dan sistem pernapasan secara umum.

Lalu apa saja yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak polusi udara pada paru-paru? Berikut di antaranya, dirangkum dari berbagai sumber.

1. Selalu cek pantauan kualitas udara
Ada berbagai aplikasi yang bisa dipakai untuk memantau kualitas udara, AirVisual salah satunya. Warna dan angka yang tertera menunjukkan kualitas udara pada satu waktu, dan disertai perkiraan level polusi pada waktu lainnya.

Tentunya akan sulit untuk sama sekali menghindari aktivitas luar ruangan, maka yang bisa dilakukan adalah mengaturnya. Jika hendak olahraga misalnya, maka pilih waktu saat polusi sedang tidak terlalu tinggi.



2. Hindari kepadatan lalu lintas
Salah satu penyumbang utama polusi udara adalah asap kendaraan bermotor. Makin tinggi volume kendaraan yang melintas di satu ruas jalan, tingkat polusi di sekitarnya umumnya makin tinggi.

Bagi yang ingin bike to work, peneliti kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia, Budi Haryanto, menyarankan untuk mengambil jalan tikus. Tujuannya tak lain untuk menghindari polusi dari kepadatan lalu lintas.

"Orang normal biasanya (tarik napas -red) semenit cuma 20 kali, nah yang naik sepeda bisa 40 kali kan ngos-ngosan. Berarti makin banyak debu yang kamu hirup, semakin banyak pencemaran udara yang masuk ke tubuh. Lebih aman cari jalan tikus," saran Budi.



3. Gunakan masker yang sesuai
Kebanyakan masker yang ada di pasaran tidak 100 persen bisa menangkal polusi. Masker bedah warna hijau seperti yang banyak dipakai ojek online alias ojol misalnya, sangat tidak efektif untuk menangkal partikel debu sekalipun.

"Karena saringan udara masker hijau itu nggak cukup kecil. Partikel debu masih lewat," kata dokter paru dari Omni Hospital, dr Frans Abednego Barus, SpP.

Dibanding masker hijau 'ojol', lebih disarankan pakai masker N95. Harganya relatif lebih mahal, tetapi lebih efektif menyaring partikel debu.



4. Pelihara tanaman
Beberapa jenis tanaman seperti lidah mertua dan aloe vera atau lidah buaya diyakini efektif memurnikan udara yang tercemar. Secara umum, keberadaan tanaman dan pepohonan memang menciptakan lingkungan yang lebih sejuk meski dikepung polusi udara.



5. Perbaiki pola makan
Lho apa hubungannya polusi dengan pola makan, memangnya polusinya masuk pencernaan? Jangan salah, polusi udara juga menyumbang radikal bebas pemicu berbagai masalah kesehatan. Penangkalnya tidak lain adalah antioksidan, yang bisa didapat dari sayur dan buah-buahan maupun sumber nutrisi lainnya.



Simak Video "Cara Natasha Rizky Lindungi Keluarga dari Polusi"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)