Kamis, 01 Agu 2019 06:37 WIB

Round Up

Bahaya Termometer 'Ketiak' Air Raksa, Terlarang Mulai 2020

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Termometer air raksa limbahnya bisa mencemari lingkungan (Foto: iStock) Termometer air raksa limbahnya bisa mencemari lingkungan (Foto: iStock)
Jakarta - Kementerian Kesehatan mengeluarkan surat edaran yang memuat tentang penghapusan merkuri mulai dari pelarangan produksi merkuri, penggunaan merkuri dan penggantian alat kesehatan mengandung merkuri paling lambat pada akhir tahun 2020 mendatang.

Ketentuan tersebut berarti semua fasilitas pelayanan kesehatan mulai dari rumah sakit, puskesmas, klinik mandiri, apotek dan laboratorium tidak boleh lagi menggunakan atau membeli alat kesehatan yang mengandung merkuri.

"Ada ribuan gram merkuri di alat kesehatan yang kalau tidak kita tarik akan membahayakan kesehatan masyarakat," sebut Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, dr Kirana Pritasari, kepada detikHealth, Selasa (30/7/2019).



Merkuri atau raksa (Hg) merupakan logam berat yang berbahaya. Penggunaannya sangat dibatasi karena bisa mencemari lingkungan dan terakumulasi di tubuh manusia.
Adapun alat kesehatan yang mengandung merkuri dan masih banyak digunakan di fasilitas kesehatan antara lain termometer 'ketiak', tensimeter, amalgam gigi, kateter yang tingkat perkiraan kandungan merkurinya berbeda.

Adapun dampak kesehatan yang ditimbulkan akibat penggunaan merkuri antara lain kerusakan sistem saraf pusat, ginjal, dan paru-paru. Untuk janin, dampaknya berupa kelumpuhan otak, gangguan ginjal, cerebral palsy, cacat mental serta kebutaan.

Sebenarnya, ketentuan pembatasan penggunaan alat kesehatan bermerkuri telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan sejak beberapa tahun lalu namun pengimplementasiannya belum sepenuhnya terlaksana dengan sempurna.

Nantinya, rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan yang belum menarik peredaran alat kesehatan bermerkuri akan dikenai sanksi. Sebab alat kesehatan yang tidak bermerkuri masuk dalam komponen kompetensi alat dalam penilaian akreditasi rumah sakit.

"(Jika masih menggunakan alat kesehatan bermerkuri) Akan beresiko menurunkan akreditasi rumah sakit. Rumah sakit kena sanksi yang besar dan tidak boleh beroperasi," sebut Sekertaris Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, dr Agus Hadian Rahim, SpOT, MEpid, MHKes.



Selain pada tingkat fasilitas pelayanan kesehatan, alat kesehatan bermerkuri juga akan ditarik di pasaran. Sayangnya hal ini menjadi sulit karena masih banyak rumah tangga yang menggunakan alat kesehatan bermerkuri khususnya termometer 'ketiak' air raksa sehari-hari.

"Minimnya pengetahuan karena masyarakat masih menyinpan termometer yang mengandung merkuri. Kami mengharapkan agar masyarakat lebih aware pada alat kesehatan yang mengandung merkuri," pungkas dr Kirana.



Simak Video "Kampanye Positif Tingkatkan Kepedulian dan Pemahaman Soal Kanker"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)