Selasa, 13 Agu 2019 07:35 WIB

Round Up

Fenomena Meracau 'Bahasa Rusia' Akibat Serangan Stroke di Usia 35

Widiya Wiyanti - detikHealth
Vabyo meracau bahasa rusia saat terserang stroke. (Foto: Asep Syaifullah/detikHOT)) Vabyo meracau 'bahasa rusia' saat terserang stroke. (Foto: Asep Syaifullah/detikHOT))
Jakarta - Valiant Budi atau yang kerap disapa Vabyo, penulis sekaligus pencipta lagu yang mengalami serangan stroke di usianya yang cukup muda, yakni 35 tahun. Stroke yang dialaminya adalah stroke hemoragik yang disebabkan pecahnya pembuluh darah di otak kiri.

Itu memengaruhi kemampuan berbahasanya menjadi kacau. Ketika berbicara, yang terdengar hanya bahasa yang sulit dimengerti. "Mirip bahasa Rusia campur Belanda," katanya kepada detikHealth, Senin (12/8/2019).

Bukan hanya kemampuan bahasa dan berbicaranya, serangan stroke juga memengaruhi ingatannya. Sungguh mengerikan, setiap bangun tidur, ingatannya 'terhenti' di tahun tertentu sampai ia tak bisa mengenali teman dan bahkan keluarganya sendiri.

"Jadi dokterku pernah menerangkan, memoriku masih tersimpan utuh, tapi jembatan penghubung antara 1 memori dengan memori lainnya sering hilang," tuturnya.

Menanggapi apa yang dialami Vabyo, dokter bedah saraf dari RS Mayapada, dr Roslan Yusni Hasan, SpBS, mengatakan bahwa itu berkaitan dengan fenomena yang disebut hyper recalling. Terlebih lagi, stroke yang dialami Vabyo kemungkinan mengenai bagian otak yang disebut Broca dan Wernicke, area yang berperan pada proses bahasa serta kemampuan untuk berbicara. Area ini dominan berada di otak kiri.

"Otak kita kan menampung semua informasi. Contoh bisa baca Al-Quran masuk ke memori, atau dengar bahasa Belanda masuk ke memori. Nah, apa yang pernah didengar itu dipanggil lagi atau disebut hyper recalling," jelas dr Ryu.


Vabyo juga mengaku, bahwa sebelum terserang stroke, ia memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi mencapai angka 200/100. Namun Vabyo mengabaikan segala macam gejala hipertensi tersebut, mulai dari kepala pening hingga leher kaku dan pegal.

Ia justru menerapkan pola hidup tidak sehat dengan tidak menjaga makan, kurang minum air putih dan merokok pun jadi biang kerok penyakit silent killer tersebut.

"Ugh dulu aku sarapan nasi padang gule otak. Lalu ngopi setiap hari pake teko French Press yang setara 3 cangkir gelas, dan sehari bisa 3 kali nambah. Jadi sehari minimal bisa 9 gelas. Rokok sebenernya gak banyak, tapi aku rajin nyangklong (pipa) itu," kenangnya.

Padahal, menurut dr Ryu, pola hidup tidak sehat dapat memicu terjadinya stroke pada orang-orang dengan faktor risiko tinggi. Ada lima besar faktor risiko tinggi terjadi stroke.

"Yang pertama diabet, itu harus diobati. Kedua kekentalan darah atau kolesterolnya, kalau darahnya kental ya minum obat pengencer darah. Ketiga gangguan jantung, termasuk hipertensi. Keempat genetik, bisa adanya kekuan pembuluh darah sehingga mudah pecah atau nyumbat. Kelima stres, pekerjaan lah, membuat pembuluh darah rentan," sebutnya.

Kisah terserang stroke itu dibagikan di akun Twitter pribadi Vabyo @vabyo dan telah mendapat respon lebih dari 300 orang serta di bagikan hampir 30 ribu kali. Punya banyak 'hutang budi' jadi motivasi Vabyo untuk sembuh agar bisa membalas kebaikan keluarga dan rekannya.



Simak Video "Cerita Penulis Vabyo Kena Stroke di Usia 35 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)
News Feed