Kamis, 15 Agu 2019 13:57 WIB

Ingin Patenkan Riset Kayu Bajakah dari Kalimantan? Begini Prosesnya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Butuh proses panjang untuk mematenkan sebuah riset obat (Foto: iStock) Butuh proses panjang untuk mematenkan sebuah riset obat (Foto: iStock)
Topik Hangat Bajakah Tanaman Apa?
Jakarta - Riset yang dilakukan oleh siswi SMA Palangkaraya mengenai kayu bajakah sebagai alternatif obat penyembuh kanker payudara mendapat respons beragam dari masyarakat. Sebagian besar menuntut pemerintah untuk segera mematenkan hasil riset tersebut agar tidak 'dicuri' oleh negara lain.

Wakil Direktur Medical Education Research Insitute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, menuturkan bahwa penelitian yang berpotensi untuk diporduksi dan dikomersialisasi tentu bisa dipatenkan seperti kayu dan akar bajakah. Apalagi Indonesia memiliki banyak tanaman herbal yang berpotensi diteliti khasiatnya dan digunakan sebagai obat.

"Kita punya tanaman yang luar biasa. Tetapi harus kita pahami juga bahwa akar bajakah memiliki banyak sekali zat yang berpotensi sebagai obat, dan kita tidak tahu zat mana yang memberikan efek teurapetik atau obat-obatan," tutur Prof Iko, sapaannya, kepada detikHealth, Kamis (15/8/2019).

Prof Iko menambahkan, di akar bajakah terdapat ratusan bahkan ribuan zat aktif yang jika ingin disebarkan ke masyarakat harus melalui tahapan identifikasi. Ini dilakukan untuk menentukan dari sekian ratus zat aktif, mana yang paling efektif dan mujarab sebagai obat kanker.

"Kalau kita makan bajakah saja tanpa diekstrak atau dipurifikasi, namanya jamu. Ada penelitian lagi untuk mengekstraksi tanaman tersebut. Nah kalau sudah jadi compund dan benar-benar hanya satu saja zat yang terbukti, itu baru namanya obat," sebutnya.

Tentu saja, proses untuk menentukan satu-satunya zat aktif yang paling efektif untuk menyembuhkan penyakit membutuhkan waktu yang sangat lama. "Proses dari akar bajakah sampai menjadi single compound itu panjang sekali. Bisa sampai 20-25 tahun," kata Prof Iko.

Kalau kita makan bajakah saja tanpa diekstrak atau dipurifikasi, namanya jamu.Prof Dr dr Budi Wiweko, SpOG(K), MPH - Peneliti FKUI


Untuk penelitian yang bertujuan untuk dijadikan obat dan ingin dipatenkan pun perjalanannya cukup panjang. Peneliti harus menentukan terlebih dahulu single compound, cara kerjanya, efektifitas, keamanan, dan jumlah toksik yang ada didalamnya.

Soal registrasi paten, misal peneliti sudah menemukan satu zat aktif yang terbukti, penelitian tersebut didaftarkan di Kementerian Hukum dan HAM, Dirjen HAKI (Hak Kekayaan Intelektual). Tapi sebelumnya dicari tahu lagi apakah penelitian tersebut memiliki sanggahan, sudah pernah diteliti, atau bantahan terhadap penelitian tersebut.

"Biasanya prosesnya 6 bulan sampai 1 tahun dan kalau sudah punya sertifikat, maka sudah terproteksi. Tapi yang harus diingat, paten itu hanya berlaku 25 tahun. setelah itu jadi informasi yang bisa dipakai oleh umum," pungkasnya.



Simak Video "Bunda, ASI Eksklusif Bisa Lindungi Anak dari Kanker Darah"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)
Topik Hangat Bajakah Tanaman Apa?
News Feed