Kamis, 15 Agu 2019 16:04 WIB

Heboh Kayu Bajakah, Kenapa Banyak Riset Obat Cuma 'Mangkrak' di Jurnal?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Banyaknya riset ilmiah yang akhirnya cuma mangkrak di jurnal bikin frustrasi pasien yang begitu mengharapkan kehadiran obat mujarab untuk kanker payudara. (Foto: iStock) Banyaknya riset ilmiah yang akhirnya cuma 'mangkrak' di jurnal bikin frustrasi pasien yang begitu mengharapkan kehadiran obat mujarab untuk kanker payudara. (Foto: iStock)
Topik Hangat Bajakah Tanaman Apa?
Jakarta - Riset kayu dan akar bajakah oleh siswa SMA Palangkaraya yang memenangkan penghargaan internasional menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam hal penelitian di bidang kesehatan. Sayangnya saat ini masih banyak penelitian yang hanya berujung pada makalah, disertasi, dan publikasi sehingga kurang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Diterangkan oleh wakil Direktur Medical Education Research Insitute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, saat ini IMERI memang sudah memiliki sub divisi drug development research center yang bertugas untuk mengenali, mencari, mengidentifikasi substrak yag berpotensi memiliki ekstrak obat hanya saja yang sudah diproduksi bisa dihitung jari.
Masyarakat kita sangat mudah disentil oleh isu yang baru, digulung. Apalagi yang disasar adalah penyakit yang susah disembuhkan, biayanya mahal, banyak penderitanya..Prof Dr dr Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, - Peneliti FKUI

"Sampai sekarang dari IMERI belum ada yang jadi obat atau diproduksi massal hanya ada beberapa yang sudah mulai didekati oleh industri. Belum ada yang belum ada menjadi produk kecuali stemcell yang sudah dikomersialisasikan," katanya saat dijumpai detikHealth, Kamis (15/8/2019).



Kendala utama yang membuat banyak hasil riset menjadi mangkrak adalah belum adanya Technology Transfer Office (TTO) sebagai jembatan yang bisa menghubungkan antara peneliti dan industri. Padahal peran TTO adalah membawa penelitian ke ranah industri dan terapan.

"Selain itu ada kendala dari segi pemerintahan sehingga private sector kadang sulit untuk mau masuk," tambahnya.

Tantangan selanjutnya adalah proses penelitian yang memakan waktu, tenaga, dan biaya cukup besar dan tidak diimbangi dengan dana penelitian pemerintah yang hanya 0,03 persen dari anggaran negara. "Makanya kita harus punya TTO yang bisa menjadi perencana agar peneliti, pihak industri dan pemerintah juga bisa bersinergi,"

'The Power of Socmed'

Soal riset akar bajakah beberapa waktu lalu, Prof Iko memberi komentar bahwa masyarakat menjadi sangat heboh didasari karena masifnya pemberitaan di media sosial apalagi sasarannya adalah penyakit yang pembiayaannya besar dan sulit disembukan.

"The power of media. Medsos kan cepat sekali. Masyarakat kita sangat mudah disentil oleh isu yang baru, digulung. Apalagi yang disasar adalah penyakit yang susah disembuhkan, biayanya mahal, banyak penderitanya, dikasih hope makanya musti diluruskan," sebutnya.

Meski demikian, Prof Iko sangat mengapresiasi hasil penelitian akar bajakah dari kedua siswi tersebut. IMERI bahkan siap membantu jika mereka ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai manfaat akar bajakah.

"Yang jelas kita menghargai itu sebuah inovasi. Hanya kita musti lihat, yang ditemukan itu apa. Mereka juga bisa internship jadi pas liburan sekolah ke IMERI, nanti kita ajarkan," pungkasnya.



Simak Video "Bunda, ASI Eksklusif Bisa Lindungi Anak dari Kanker Darah"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)
Topik Hangat Bajakah Tanaman Apa?
News Feed