Senin, 19 Agu 2019 17:12 WIB

CDC Investigasi Penyakit Paru Terkait Penggunaan Rokok Elektrik

Firdaus Anwar - detikHealth
Cenderung baru,studi masih belum bisa melihat efek jangka panjang rokok elektrik. (Foto: iStock) Cenderung baru,studi masih belum bisa melihat efek jangka panjang rokok elektrik. (Foto: iStock)
Topik Hangat Vape Vs Pneumonia
Jakarta - Rokok elektrik atau vape jadi kontroversi karena sering diklaim lebih 'aman' bagi kesehatan dibandingkan rokok biasa. Namun demikian tidak sedikit juga ahli yang menolak klaim tersebut dan melihat bahwa rokok elektrik sama saja berbahaya bagi kesehatan.

Nah terkait hal tersebut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) kini tengah melakukan investigasi penyakit paru karena penggunaan rokok elektrik. Hal ini dilakukan karena kemunculan kasus setidaknya di 14 negara bagian.


Menurut CDC sejak 28 Juni dilaporkan ada 94 kasus penyakit paru parah dengan gejala batuk-batuk, sulit bernapas, dan kelelahan di antara pengguna rokok elektrik yang sebagian besar orang dewasa muda. Dari semua kasus tersebut tidak ada bukti penyakit disebabkan infeksi.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), pernah mengatakan sebutan rokok elektrik lebih aman atau 'less harmfull' daripada rokok biasa menyesatkan. Dalam fakta yang ditemukan, vape tetap mengandung bahan berbahaya walaupun tidak mengandung tar.


"Jadi istilah less harmful ini dipakai oleh pembuat rokok elektrik supaya menyamarkan bahwa rokok elektrik tidak berbahaya tapi less. Tapi bukan berarti tidak berbahaya, dia tetap berbahaya," ujarnya.



Simak Video "Benarkah Menggunakan Vape Bisa Jadi Depresi?"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)
Topik Hangat Vape Vs Pneumonia