Jumat, 30 Agu 2019 08:14 WIB

Agar Iuran BPJS Kesehatan Tak Naik, Dokter Sarankan Obat Biosimilar

Nabila Ulfa Jayanti - detikHealth
BPJS Kesehatan. Foto: Pradita Utama
Jakarta - Kenaikan iuran BPJS Kesehatan yang digadang pemerintah merupakan buntut dari defisit sekitar Rp 3T yang saat ini sedang terjadi. Selain menaikkan iuran, dua alternatif lain ini bisa dipertimbangkan, lho.

Naiknya iuran BPJS Kesehatan dinilai berat bagi masyarakat kalangan bawah. Hal tersebut juga diharapkan 'setimpal' dengan layanan-layanan yang dijanjikan.

Menurut dokter bedah onkologi di RS MMC dr Farida Briani Sobri, SpB(K)Onk, Indonesia perlu menerapkan obat biosimilar. Obat ini bekerja seperti obat bermerek layaknya trastuzumab bagi kanker payudara HER2+ dengan harga yang jauh lebih terjangkau. India merupakan negara yang menerapkan obat biosimilar lebih dulu.

"Ada support secara birokrasi dan politis di situ. Okelah trastuzumab harganya mahal, tapi sebetulnya ada banyak hal lain yang bisa dihemat," pungkas dr Farida, Kamis (29/8).


Selain pengadaan obat biosimilar, memberlakukan cost sharing seperti yang pernah diterapkan di masa ASKES dulu juga dapat diperhitungkan, menurut konsultan hematologis dan onkologi medis RS Kanker Dharmais dr Ronald A. Hukom, SpPD-KHOM.

Prosedur cost sharing adalah memberi bantuan jaminan kesehatan berdasarkan kemampuan finansial pasien. Sehingga tidak semuanya ditanggung oleh pemerintah. Hal ini sudah diterapkan di Singapura.

"Cost sharing saat ini mungkin yang paling tepat. Caranya bagaimana ya sebenarnya pengalaman sudah ada," kata dr Ronald.






Simak Video "Menkes Budi: Deteksi Dini Penyakit Kronis Akan Ditanggung JKN"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)