Minggu, 15 Sep 2019 10:05 WIB

Round Up

Viral Modus Penipuan Cerita Sedih ala Driver Ojol yang Bikin Was-was

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi ojek online atau ojol. Foto: Tim Infografis: Luthfy Syahban Ilustrasi ojek online atau ojol. Foto: Tim Infografis: Luthfy Syahban
Topik Hangat Tertipu Cerita Sedih
Jakarta - Baru-baru ini viral di media sosial terutama Twitter soal driver ojol menipu dengan 'menjual' cerita sedih kepada korbannya. Hal ini ramai setelah diceritakan oleh pengguna ojol dengan user @kirekswasta.

Melihat tweet itu, pemilik akun @yukeeofn pun kaget karena merasa sama dengan yang dialaminya. Ia mendapat driver berperawakan pria paruh baya yang sepanjang jalan menangis karena istrinya kena kanker rahim namun belum memiliki biaya untuk menebus obat-obatan. Karena iba, ia kemudian memberi sejumlah uang dengan maksud membantu driver tersebut.

Cerita ini pun ditemukan oleh Ecky, pengguna ojol yang ternyata pernah mengalami hal yang sama dengan yang dialami pencerita-pencerita di atas. Modusnya pun diakui Ecky sama persis dengan yang dialaminya kurang lebih 2 bulan lalu.

"Saya baru tahu bahwa ternyata modusnya sama banget dengan yang saya alami. Puncak saya tahu bahwa itu adalah penipuan adalah Thread mbak Yuk yang mendapatkan balasan dari bapak Hamdan bahwa istrinya meninggal, tapi di aksi berikutnya, dia melakukan modus yang sama," ungkapnya kepada detikcom, Jumat (13/9/2019).

"Mana bisa istri sudah meninggal tapi masih modus dengan cara memberitahu bahwa istrinya kanker rahim stadium 4? Di situlah saya tau bahwa itu modus penipuan," lanjut Ecky.


Menanggapi hal ini, psikolog dari Universitas Indonesia Firman Ramdhani mengatakan bahwa para korban bukan merasa empati, melainkan simpati. Firman menekankan bahwa kedua hal ini harus dibedakan.

"Itu bukan empati, tapi rasa kasian atau simpati saja," ujarnya kepada detikcom, Sabtu (14/9/2019).

"Empati itu kita benar-benar paham dari sudut pandang dia. Kita memahami kenapa dia bisa berpikir gitu, muncul emosi itu, berperilaku itu, karena kita tau betul kondisi dia. Kalau empati secara personali kita tau dia orang seperti apa, dan kita bantu. Bantu kan nggak mesti pakai duit," jelas Firman.

Simpati kebalikan dari empati, seseorang tidak harus memahami lebih dalam soal kesulitan orang lain. Yang muncul saat simpati adalah rasa kasihan dengan membayangkan bagaimana rasanya apabila berada di posisi orang yang kesusahan.


Firman melanjutkan, seseorang mudah tertipu karena modus yang dilakukan berkaitan dengan pengalaman pribadinya. Rasa kasihan dan simpati seseorang akan membuat otak emosi aktif, maka cenderung dapat menyebabkan otak berpikir menurun.

"Sederhananya kalau kita lagi marah kita bisa ngelakuin hal-hal yang nggak pernah kita lakuin sebelumnya kan," imbuh Firman.

Apakah cerita-cerita penipuan seperti itu bisa membuat orang was-was untuk bersedekah? Firman menyebut bahwa merasa curiga pada cerita sedih ala diver ojol yang viral itu merupakan hal yang normal. Tetapi curiga masih dalam batas yang tidak berlebihan.

"Justru curigaan itu is a good thing lho. Kita pengen apa yang kita kasih tepat sasaran, bermanfaat untuk orang itu sesuai dengan kebutuhan," tuturnya.

"Tapi dalam kadar tertentu ya. Maksudnya nggak sampai interogatif gitu, sewajarnya saja. Nggak apa-apa kita jadi lebih tahu," tutup Firman.



Simak Video "Dari Kacamata Psikolog Soal Pedangdut dan DJ Sering Dicap Negatif"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/fds)
Topik Hangat Tertipu Cerita Sedih