Minggu, 15 Sep 2019 19:01 WIB

Cukai Rokok Naik 23 Persen, Bakal Kurangi Tekornya BPJS Kesehatan?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Naiknya cukai rokok diharapkan mampu menekan angka perokok aktif di Indonesia. (Foto: Pradita Utama) Naiknya cukai rokok diharapkan mampu menekan angka perokok aktif di Indonesia. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta - Kenaikan cukai rokok 23 persen pada 1 Januari 2020 mendatang tentunya berimbas pada harga rokok yang ikut naik. Naiknya cukai dan harga rokok diharapkan mampu menekan angka perokok aktif di Indonesia. Pasalnya, merokok merupakan faktor risiko terbesar penyebab penyakit tidak menular.

Hampir semua penyakit tidak menular yang diidap oleh masyarakat Indonesia disebabkan karena kebiasaan merokok. Pada tahun 2018 lalu, BPJS Kesehatan tekor 16,5 triliun rupiah akibat pembiayaan dari penanganan penyakit katastropik.

Beberapa waktu yang lalu, ahli hipertensi paru dari RS Harapan Kita Prof Dr dr Bambang Budi Siswanto, SpJP(K), Fascc, FAPSC, FACC, mengatakan kebiasaan hidup yang tidak sehat seperti merokok menjadi penyumbang terbesar defisit BPJS Kesehatan karena harus membiayai pengobatan akibat merokok.


"Coba cek itu penyakit yang paling banyak makan dana BPJS dari jantung, paru-paru. Semuanya gara-gara apa? Ya kebiasaan merokok," ujarnya kepada detikcom.

Lebih dari 50 persen defisit BPJS Kesehatan diperuntukkan untuk membiayai pasien penyakit jantung yakni sebesar Rp 6,67 triliun. Selain itu, penyakit katastropik lainnya yang bisa disebabkan oleh kebiasaan merokok yakni kanker dan stroke dengan total pembiayaan Rp 3,27 triliun.

Cukai sendiri adalah biaya yang dikenakan sebagai akibat dari penggunaan barang tertentu. Rokok dengan kandungan nikotin, tar, dan bahan kimia lain terbukti berisiko mengakibatkan penyakit dalam jangka waktu tertentu.



Simak Video "Bersiteguh Vape Aman, Vaper Ramai-ramai Pamer Rontgen Dada"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/fds)