Senin, 23 Sep 2019 08:47 WIB

Round up

Obat Asam Lambung Tercemar Pengotor, Dikaitkan Juga dengan Risiko Kanker

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi obat asam lambung Ranitidin. Foto: iStock Ilustrasi obat asam lambung Ranitidin. Foto: iStock
Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan informasi awal terkait konsumsi obat asam lambung Ranitidin. Organisasi pengawas obat dan makanan Amerika Food and Drug Administration (FDA) dan European Medicines Agency (EMA) menemukan cemaran n-Nitrosodimethylamine (NDMA) pada sampel produk berbahan aktif ranitidin.

Menurut BPOM, pada tahap ini risiko tersebut sangat rendah dibanding manfaat penggunaan obat. Namun BPOM menganggap perlu untuk menyampaikan risiko ini secepatnya pada tenaga kesehatan. Informasi awal ini ditujukan pada tenaga profesional di bidang kesehatan.

"Diperlukan prinsip kehati-hatian dalam meresepkan dan memberikan informasi penggunaan ranitidin kepada pasien. Pada saat ini tidak ada rekomendasi untuk menghentikan terapi bagian pasien yang memerlukannya. Jika dengan alasan tertentu pasien akan menghentikan terapi, harus berkonsultasi dengan tenaga profesional kesehatan," tulis BPOM.



Dikutip dari situs Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR), paparan NDMA berisiko merusak fungsi hati. NDMA bisa masuk ke dalam tubuh melalui udara, obat, dan makanan. Dampaknya bergantung pada cara terpapar, dosis, kebiasaan, dan adanya faktor kimia lain dalam tubuh. Beberapa referensi mengaitkannya dengan risiko kanker.

Ranitidin adalah jenis obat asam lambung dalam bentuk generik atau komersil, yang sangat mudah ditemui di masyarakat umum. Zat ini menekan asam lambung yang dihasilkan sistem pencernaan. Salah satu faktor risiko naiknya produksi asam lambung adalah makan tidak teratur dan pola hidup yang buruk.

Terkait dengan keluarnya informasi awal dari BPOM, dokter ahli pencernaan Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, FACG, menyarankan masyarakat tak perlu khawatir. Masyarakat tak perlu segera ganti obat, karena ranitidin tetap aman dikonsumsi. Namun masyarakat disarankan berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu.

"Masyarakat yang rutin minum ranitidin sebaiknya konsultasi dulu dengan dokter. Tanya yang sebaiknya dilakukan dengan adanya informasi awal dari BPOM. Jika disarankan ganti ya sebaiknya dilakukan. Namun jika tidak maka bisa dilanjutkan. Jika bahaya pasti ditarik dari peredaran," kata dr Ari pada detikcom.



Berikut 4 fakta yang harus diketahui seputar ranitidin:

1. Mudah ditemui

Menurut dr Ari, ranitidin adalah obat asam lambung yang relatif mudah ditemui masyarakat umum. Apalagi di fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama yang paling dekat dengan masyarakat.

"Ranitidin masih banyak digunakan di puskesmas, praktik dokter umum, dan klinik pratama. Untuk faskes lanjutan biasanya sudah pakai omeprazole, namun keduanya baik dan aman digunakan untuk mengatasi asam lambung," kata dr Ari.

2. Cara kerja

Ranitidin adalah obat antagonis reseptor H2 sama seperti famotidine, simetidine, dan nizatidine. H2 adalah senyawa histamin 2 yang berperan merangsang dan melepaskan zat asam pada lambung.

"Secara klinis ranitidin menurunkan produksi asam lambung yang berlebihan. Sehingga rasa tidak nyaman yang muncul atau berbagai risiko akibat kelebihan asam lambung bisa dicegah," kata dr Ari.

3. Cara pakai

Sediaan ranitidin adalah dalam bentuk tablet, sirup, dan injeksi. Ranitidin dikonsumsi sebelum makan, dengan dosis dan kandungan zat aktif sesuai saran dokter. Tablet dan sirup bisa dikonsumsi langsung, sedangkan injeksi dengan disuntikkan ke dalam tubuh.

4. Efek samping

Sama seperti obat lain, ranitidin yang dikonsumsi tanpa resep dokter menganggu fungsi organ lain. Salah satunya kerja hati dalam menyaring racun dan detak jantung tidak teratur, yang bisa dicegah dengan konsumsi sesuai resep dan menerapkan pola hidup sehat.



Ranitidin dijual bebas sebagai obat Over The Counter (OTC) dan gampang ditemui di apotek. Selain ranitidin, gangguan asam lambung bisa diatasi dengan omeprazole. Zat ini bisa jadi pilihan selain ranitidin, jika dokter menyarankan ganti obat.

Menurut dr Ari, efek omeprezole lebih baik daripada ranitidin. Omeprazole bekerja dengan menghalangi sistem enzim yaitu pompa proton yang memproduksi asam lambung. Meski begitu, konsumsi ranitidin dan omeprazole sama-sama berdampak baik asal dilakukan sesuai anjuran dokter.



Simak Video "Obat Maag Ranitidin Ditarik, BPOM Umumkan Daftar Obat Pengganti"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)