Sabtu, 28 Sep 2019 18:12 WIB

Banyak Kasus Kerusakan Paru di AS, Pengguna Vape di Indonesia Tak Takut?

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi vape atau rokok eletrik. Foto: iStock Ilustrasi vape atau rokok eletrik. Foto: iStock
Jakarta - Korban kerusakan paru-paru terkait rokok elektrik atau vape di Amerika Serikat (AS) terus bertambah menjadi 530 kasus dengan 11 orang meninggal dunia. Meksipun masih terus dilakukan investigasi mendalam, pemerintah AS telah melarang peredaran vape dengan berbagai rasa.

Bagaimana para pengguna vape di Indonesia menanggapi maraknya kasus itu di AS? Dimasz Jeremia, penasehat Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) mengatakan bahwa tidak ada orang yang meninggal karena vape. Menurutnya, kasus-kasus di AS itu bukan karena vape melainkan karena ada narkoba jenis ganja pada vape yang digunakan.

"Yang sekarang terjadi adalah orang yang pakai ganja ilegal berbentuk ilegal mati. Yang disorot adalah dia pakai ganjanya dengan alat vaping. Dia nggak lagi vaping, dia pakainya narkoba. Belum ada orang vaping terus meninggal. Ini malah digoreng gila-gilaan dibilang berapa orang meninggal karena vaping," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.


Dimasz mengaku, vape tidak membuat kesehatannya menurun, justru menjadi lebih baik karena dengan vape juga ia bisa terbantu berhenti merokok konvensional dengan rata-rata konsumsi dua bungkus per hari.

Karena menurutnya belum ada penelitian-penelitian soal vape sama bahayanya dengan rokok konvensional, Dimasz meminta para dokter untuk mengemukakan penelitian yang konkret.

"Kalau memang menurut mereka ini bahaya ya bukalah penelitian yang resmi dan terbuka, bandingkan rokok konvensional itu emisinya seperti apa dan vape itu emisinya seperti apa. Kalau sekarang kan cuma dagang ketakutan atas sesuatu yang belum terjadi. Itu menurut saya aneh," pungkasnya.


Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), FISR, FAPSR menegaskan vape bukan hanya sama berbahayanya, namun lebih berbahaya daripada rokok konvensional. Ada tiga komponen yang bisa membahayakan tubuh, yaitu nikotin, karsinogen, serta zat toksik dan iritatif.

"Komponen ketiga yang bersifat iritatif dan toksik, sehingga menyebabkan kerusakan sel akut sehingga menyebabkan kerusakan paru akut. Bahkan hanya dalam pemakaian 3 bulan," tegas dr Agus.

Lebih lanjut penemuan BNN (Badan Narkotika Nasional) menunjukkan adanya narkoba di dalam beberapa cairan vape. dr Hari Nugroho dari Institute of Mental Health Addiction and Neurosience (IMAN) mengatakan bahwa ada sampel-sampel vape yang dianalisis BNN mengandung narkoba seperti 4-metklorokatinona atau yang disebut Blue Safir, THC yang ada pada ganja, MDMA atau Liquid Illusion, dan Methamphetamine.

"Methamphetamine di rokok elektronik apalagi sabu sendiri cara penggunaannya lebih mirip dengan proses vaping, dipanaskan," tandasnya.



Simak Video "Bersiteguh Vape Aman, Vaper Ramai-ramai Pamer Rontgen Dada"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/fds)