Hal ini mengundang perhatian karena disebut ahli jadi gambaran miris kondisi perokok muda di Indonesia yang terus meningkat. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 persentase perilaku merokok di kalangan remaja ada sekitar 9,1 persen, lebih besar dari tahun 2013 yakni 7,2 persen.
"Betul kita punya masalah dengan perokok muda," komentar praktisi kesehatan dan guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Ari Fahrial Syam, pada detikcom dan ditulis Selasa (1/10/2019).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perilaku merokok di usia muda ini dijelaskan juga oleh dr Amalia Usmaianti dari program Nusantara Sehat bisa tumbuh subur karena minim peran keluarga dalam mengawasi perilaku anak. Menurut wanita yang akrab disapa dokter Amel ini sebetulnya para pelajar merokok bukan kurang pengetahuan soal bahaya rokok, tetapi kurang kesadaran.
"Itu tadi karena keluarga cuek. Karena kalau dibilang kurang pengetahuan, ini di kota juga masih banyak (pelajar merokok -red). Sebenarnya sih sudah pada tahu bahaya merokok, cuma kesadarannya enggak baik," kata dr Amel.
Menurut dr Amel bila memang para pelajar memiliki kesadaran masalah yang baik, seharusnya merokok jadi prioritas utama yang harus diselesaikan sebelum demo turun ke jalan-jalan.
"Anak-anak ini ngerokok bisa karena kesempatan, merasa enggak diawasi. Padahal ini dululah yang diperbaiki, kesehatan," kata dr Amel.
(fds/up)











































