Sabtu, 12 Okt 2019 18:06 WIB

Jangan Kelamaan, Jabat Tangan Lebih dari Tiga Detik Picu Gangguan Cemas

Rosmha Widiyani - detikHealth
ilustrasi jabat tangan atau salaman yang jangan kelamaan. Foto: Thinkstock ilustrasi jabat tangan atau salaman yang jangan kelamaan. Foto: Thinkstock
Jakarta - Jabat tangan alias salaman ternyata memang tidak boleh terlalu lama. Riset dari University of Dundee menyatakan, orang yang melakukan jabat tangan terlalu lama cenderung tidak disukai. Kebiasaan ini memicu gangguan cemas dan membahayakan hubungan dengan lingkungan sekitar.

"Berjabat tangan adalah bentuk memberi salam yang penting dan berdampak jangka panjang pada hubungan yang hendak dibangun. Sebelumnya sudah ada bukti untuk pelukan sebagai bentuk salam, sebaiknya jangan dilakukan lebih dari tiga detik. Pelukan atau jabat tangan yang tidak terlalu lama terasa lebih natural," kata pimpinan studi Dr Emese Nagy dikutip dari Daily Mail.


Menurut Dr Nagy, jabat tangan yang lebih dari tiga detik mungkin terlihat sebagai sikap yang hangat. Namun, sikap ini ternyata tidak direspon orang yang menerima jabat tangan dengan baik meski sudah tak lagi bersalaman. Peneliti menyoroti kebiasaan politisi yang kerap berlama-lama jabat tangan, salah satunya Presiden Amerika Donald Trump.

Presiden Trump berjabat tangan selama 19 menit dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dan 29 detik dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, saat berkunjung ke negara tersebut pada 2017. Menurut peneliti, jabat tangan terlalu lama mungkin terlihat baik di depan kamera tapi bisa disalahartikan orang lain.

"Ada politisi yang cenderung berlama-lama saat melakukan jabat tangan. Sikap ini sering digunakan untuk mengekspresikan kehangatan, tapi juga berarti menunjukkan kekuasaan atau dominasi. Ini bisa membahayakan hubungan pribadi dan kualitas kerja dengan pihak yang diajak berjabat tangan," kata Dr Nagy.


Dalam riset, hal ini ditunjukkan dengan kecemasan yang mulai muncul dan jarang tertawa. Sikap lainnya adalah tidak lagi menikmati interaksi tersebut. Salah mengartikan sikap jabat tangan yang terlalu lama juga terjadi pada mereka yang menyaksikannya.

Riset telah dipublikasikan dalam jurnal Perceptual And Motor Skills berjudul Effects Of Handshake Duration On Other Nonverbal Behavior. Studi dilakukan terhadap 25 wanita dan 9 pria melalui wawancara yang dimulai dengan jabat tangan.

Periset tidak berjabat tangan dengan 1/3 responden, menyapa 1/3 lain dengan jabat tangan selama 2-3 detik, dan sisanya dengan salaman lebih dari tiga detik. Riset tidak melihat adanya perubahan sikap pada responden yan tidak melakukan jabat tangan.



Simak Video "Lelah Dengan Tekanan Sosial? Jangan Malu Curhat ke Psikolog"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)