Senin, 14 Okt 2019 15:00 WIB

Bagi Kelompok Ini, 'No Bra Day' Diperingati Tiap 26 Maret

Nabila Ulfa Jayanti - detikHealth
Gerakan melempar bra untuk mengkampanyekan bahaya kanker payudara di Hangzhou, China. (Foto: ChinaFotoPress via Getty Images) Gerakan melempar bra untuk mengkampanyekan bahaya kanker payudara di Hangzhou, China. (Foto: ChinaFotoPress via Getty Images)
Jakarta - Meski tidak ada pengakuan resmi, No Bra Day diperingati tiap tanggal 13 Oktober. Sedangkan bagi sekelompok aktivis di AS, 'No Bra Day' diperingati tiap 26 Maret.

Gerakan 'tanpa bra, bebaskan puting' di Amerika Serikat sudah ada sejak bertahun-tahun yang lalu. Hal itu dimulai dari hadirnya film yang membuat gerakan meluas ke berbagai belahan dunia.

Tahun 2014 silam, Netflix merilis sebuah dokumenter drama bertajuk 'Free the Nipple' oleh Lina Esco. Dikutip dari Her Campus, film tersebut bercerita tentang sekelompok perempuan di Kota New York yang melakukan kampanye memprotes adanya kriminalisasi dan sensor payudara perempuan.

Kampanye tersebut kemudian jadi gerakan besar di negara-negara lain. Fokusnya adalah equality atau kesetaraan serta memberdayakan manusia.



Kampanye 'Free the Nipple' bukan memaksa perempuan untuk pergi tanpa baju atasan, tetapi memberikan opsi bagi mereka yang mau shirtless tanpa ada tekanan atau hujatan dari orang lain. Hal yang ingin disampaikan melalui film tersebut adalah 'dada' perempuan kerap dianggap sebagai objek seksual, ketimbang dilihat secara biologis.

Hari kampanye yang jatuh setiap 26 Maret ini mendapat dukungan sekaligus kritik dari banyak pihak. Beberapa mengkritik penggunaan payudara perempuan guna memikat perhatian untuk memperjuangkan kesetaraan perempuan di dunia yang didominasi pria, sebab pria kerap mengunakan tubuh wanita sebagai 'kesenangan' mereka.



Simak Video "Payudara Prostetik untuk Pengidap Kanker Payudara"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)