Kamis, 17 Okt 2019 15:13 WIB

Pasien Kecanduan Ponsel di RSJ Solo Juga Bertambah, Ada yang Sampai Lupa Ortu

Bayu Ardi Isnanto - detikHealth
Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa Anak Remaja RSJD dr Arif Zainudin Surakarta, Aliyah Himawati (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikHealth) Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa Anak Remaja RSJD dr Arif Zainudin Surakarta, Aliyah Himawati (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikHealth)
Surakarta - Selain di Bandung Barat, Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr Arif Zainudin Surakarta juga menerima pasien kecanduan ponsel. Tahun ini, jumlah pasien tersebut semakin meningkat.

Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa Anak Remaja RSJD dr Arif Zainudin Surakarta, Aliyah Himawati, mengatakan fenomena tersebut sudah terjadi sejak tiga tahun lalu. Namun belakangan, fenomena tersebut memang makin marak.

"Tiga tahun lalu ada tapi sedikit. Sejak tahun ajaran baru ini ada sekitar 35 anak remaja. Sehari itu ada 1-2 anak yang berobat," kata Aliyah, Kamis (17/10/2019).

Kondisi gangguan kejiwaan mereka berbeda-beda. Yang paling parah, ada pasien yang tidak mengakui bahkan hingga memukul orang tuanya.

"Orang tuanya tidak dianggap. Dia bilang kalau dia itu turun dari langit. Isi pikirannya itu yang ada di gim itu, bahasanya bahasa di gim itu," ujarnya.

Kebanyakan pasien tersebut kecanduan gim ekstrem. Mereka tidak mau makan hingga tak mau sekolah. Kalaupun sekolah, mereka ingin segera pulang untuk bermain gim.

"Ada yang niat ke sekolah itu untuk main gim. Karena di sekolah ada wifi gratis. Sedangkan di rumah sudah diputus orang tuanya," kata Aliyah.

Orang tuanya tidak dianggap. Dia bilang kalau dia itu turun dari langit. Isi pikirannya itu yang ada di gim itu, bahasanya bahasa di gim ituAliyah Himawati - Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa RS Jiwa Surakarta


Adapun pasien rawat inap tersebut ialah remaja kelas 3 SMP dan kelas 1 SMA. Mereka membutuhkan perawatan empat minggu hingga kini sudah diperbolehkan pulang.

Penanganan pasien kecanduan ponsel ini dilakukan sesuai dengan gejalanya. Yang pertama, pasien harus mengakui jika dirinya kecanduan ponsel.

"Lalu kita berikan obat. Kondisi kecanduan ini membuat cairan otak atau neurotransmitter tidak seimbang. Langkah farmakoterapi ini yang paling cepat bisa menyeimbangkan," ujar dia.

Kemudian pasien akan menjalani terapi perilaku. Secara berangsur, dosis obat juga diturunkan.

"Untuk pasien rawat jalan, kita evaluasi dua minggu sekali. Mereka kita beri kontrak kegiatan. Sehari ngapain saja. Sehari pegang ponsel itu hanya dua jam," katanya.

Untuk langkah pencegahan, dia mengimbau kepada orang tua agar menjauhkan ponsel dari anak sejak dini. Sebab saat ini banyak orang tua yang mengenalkan ponsel terlalu dini.

"Biasanya balita tidak mau makan ditontokan YouTube. Kalau hanya audionya boleh saja, tidak perlu ditontonkan gambarnya. Orang tua juga harus mencontohkan kepada anak agar menggunakan ponsel hanya untuk hal penting," tutupnya.



Simak Video "WHO Tetapkan Kecanduan Game Sebagai Gangguan Mental"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)