Jumat, 25 Okt 2019 16:35 WIB

Lagi Ngetren Permen Garam Himalaya, Ahli Nutrisi Ingatkan Bahayanya

Firdaus Anwar - detikHealth
Garam himalaya sedang tren diklaim lebih sehat. (Foto: iStock) Garam himalaya sedang tren diklaim lebih sehat. (Foto: iStock)
Jakarta - Di Malaysia saat ini dilaporkan sedang populer produk permen garam himalaya dengan rasa buah. Produk tersebut diklaim baik dikonsumsi usai berolahraga karena diklaim dapat mencegah kram, meningkatkan hidrasi, dan menyegarkan.

Namun demikian seorang ahli nutrisi Mohd Khairul Azuan menjelaskan dalam unggahannya yang viral di Facebook bahwa permen garam tersebut tidak cocok dikonsumsi semua orang. Alasannya karena permen garam tanpa disadari dapat meningkatkan asupan sodium harian yang sudah tinggi di antara masyarakat.


"Penyakit darah tinggi adalah yang paling dekat perkaitannya dengan sodium. Komplikasinya seperti pening kepala yang berterusan, sakit jantung dan masalah buah pinggang," tulisnya di Facebook pada Selasa (22/10) lalu dan hingga kini sudah dibagikan lebih dari 17 ribu kali mengundang 11 ribu komentar.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI) Dr Tunggul D Sitomorang, SpPD-KGH, FINASIM, menyebut bahwa garam pink Himalaya belum memiliki bukti ilmiah yang menunjukkan manfaat kesehatan. Dikutip dari Medical News Today, sejatinya garam himalaya mempunyai kandungan sodium yang hampir sama dengan garam meja biasa yakni sekitar 98 persen sodium klorida.

Pada mereka yang punya masalah dengan ginjal, jantung, atau yang dalam diet sodium, harus benar-benar memperhatikan konsumsi sodium dengan menghindari garam, termasuk garam Himalaya.

"Orang-orang itu sering mencari yang tidak jelas padahal yang jelas (terbukti), banyak. Kedokteran menerima hal yang sudah based on evidence, bukan soal testimoni. Harus dibuktikan 'ini' bisa dibuat untuk 'ini'," kata dr Tunggul.



Simak Video "Ada yang Tahu Penyebab Darah Tinggi Apa?"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/kna)