Rabu, 30 Okt 2019 16:17 WIB

Iuran BPJS Kesehatan Naik, Pasien: Bayar atau Gratis Sama Saja Antre

Nabila Ulfa Jayanti - detikHealth
RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat (Foto: Ari Saputra) RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Presiden Jokowi melalui Perpres Nomor 75 Tahun 2019 telah meresmikan naiknya iuran BPJS Kesehatan. Hal ini menyebabkan kenaikan iuran hingga sekitar dua kali lipat.

Untuk iuran kelas Mandiri III dengan manfaat pelayanan di ruang kelas perawatan kelas III naik dari Rp 25.500 menjadi Rp 42.000 per bulan tiap peserta. Iuran kelas mandiri II dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas II naik dari Rp 51.000 menjadi Rp 110.000 per bulan untuk tiap peserta. Sementara itu, peserta yang mendapat manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas I naik dari Rp 80.000 menjadi Rp 160.000 per bulan untuk tiap peserta.

Hal tersebut mendapat tanggapan dari masyarakat.

Reita, seorang pasien RS Kanker Dharmais menuturkan bahwa kenaikan ini belum secara langsung berimbas pada pelayanan kesehatan yang didapatnya. Selama ini ia mengeluhkan antre yang lama.

"Mau BPJS yang bayar atau yang gratis sama aja ngantre. Kalau kemarin aja saya rujukan dari Cengkareng, ambil nomer tuh jam 06.00 terus dipanggilnya jam 08.30," terang Reita saat ditemui pada Rabu (30/10).



Tanggapan berbeda datang dari Rahmat, pasien asal Serang, Banten. Menurutnya, kenaikan tersebut dirasa cukup berat.

"Namanya orang kecil ya keberatan. Kan kita bayarnya bukan 1 orang aja, tapi 1 keluarga. Semuanya harus masuk. Cukup berat memang," katanya. Dia merasa selama ini pelayanan cukup baik, tidak ada yang dipersulit.

Kenaikan iuran BPJS ini diharapkan dapat menekan angka defisit. Namun, harus dibarengi dengan pelayanan kesehatan yang makin baik.

Salah satu orangtua pasien asal Kalimantan Barat, Victoria, mengatakan kenaikan iuran ini harus dibarengi dengan pelayanan yang lebih cepat. Terlebih bagi peserta mandiri.

"Untuk pelayanan rumah sakit kalau bisa disamaratakan, baik yang kelas membayar tunai atau yang lewat BPJS," katanya. "Selalu dibedakan. Ada rumah sakit tertentu yang bedakan. Kalau yang BPJS suka diperlambat. Antrenya lama terus kuotanya selalu terbatas. Karena mungkin terlalu banyak pasien gitu."

Hal senada diungkapkan oleh Reita.

"Ya kalau bisa BPJS yang bayar, dibedain lah. Kita kan tiap bulan bayar, pelayanannya juga harus dibedain. Yang bayar harusnya diduluin loh," ujarnya.



Simak Video "Respons BPJS Kesehatan yang Disomasi Gara-gara 'Pakai' Joker"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)