Selasa, 05 Nov 2019 18:32 WIB

Tak Diwajibkan Lagi, Minat Dokter Spesialis ke Daerah Berkurang

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ilustrasi dokter. Foto: iStock Ilustrasi dokter. Foto: iStock
Jakarta - Bergantinya Program Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) menjadi Program Pendayagunaan Dokter Spesialis (PPDS), dikhawatirkan membuat penyebaran dokter di Indonesia menurun. Hal ini karena sistem yang tidak lagi mewajibkan, namun bersifat sukarela.

Ketua PB IDI (Ikatan Dokter Indonesia), dr Daeng M Fakih mengatakan, penurunan ini hanya dari segi jumlah atau kuantitas. Untuk kualitas programnya, sama sekali tidak terpengaruh.

"Karena program dokter spesialis ke daerah tidak diwajibkan lagi, memang ada sedikit penurunan. Jumlahnya ya bukan dari segi kualitasnya programnya. Untuk programnya masih berjalan," tegasnya saat ditemui detikcom di daerah Menteng, Jakarta, Selasa (5/11/2019).



Meskipun penyebaran dokter di Indonesia sedikit mengalami penurunan, namun tidak mempengaruhi antusias dari para dokter. dr Daeng mengatakan, masih banyak yang bersedia mengabdi di daerah-daerah yang sudah ditetapkan.

"Masih banyak yang antusias terhadap program PPDS ini. Karena, pada program ini rewardnya di kasih dan waktunya juga diatur yaitu setahun sekali," sambungnya.

dr Daeng merasa, reward yang diberikan pada program ini cukup bagus. Ia berharap, dengan adanya program pengganti ini tidak akan disia-siakan oleh pemerintah daerah.

"Rewardnya cukup bagus, ada yang dari pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah setempat. Saya berharap, dengan dipenuhinya reward ini, pemerintah daerah juga memenuhi segala fasilitas pelayanan kesehatan untuk bekerja di sana," ujarnya.

"Kalau tidak dipenuhi, ya rugi dong. Dokternya sudah jauh-jauh ke sana, sampai buang ongkos, tapi fasilitas untuk kerjanya tidak dipenuhi ya tidak bisa kerja lah. Sudah rugi ongkos ditambah tidak bisa menolong orang," tutup dr Daeng.



Simak Video "Kata Dokter Jiwa soal Ramai 'Keluhan' Pasca Nonton Joker"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)