Rabu, 27 Nov 2019 10:55 WIB

Updated

Mak Jleb! Menkes Terawan Sindir 'Modus' Dokter yang Bikin Tekor BPJS Kesehatan

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Menkes Terawan Agus Putranto (Foto: Muhammad Ridho)
Jakarta - Besarnya defisit BPJS Kesehatan disebut Menteri Kesehatan salah satunya karena pelayanan kesehatan diberikan kepada pasien dilakukan secara maksimal, bukan optimal. Dalam artian, banyak dokter memberikan tindakan yang tidak perlu dan membuat biaya klaim rumah sakit membengkak.

Salah satunya dapat terlihat dari klaim operasi sectio caesarea atau sesar yang sangat tinggi. Belum lagi biaya pengobatan penyakit katastropik, termasuk penyakit jantung sebesar Rp 10,5 triliun pada tahun 2018.

"Artinya apa? Terjadi pemborosan yang luar biasa untuk yang tidak seharusnya dilakukan tindakan, (malah-red) melakukan tindakan," kata Menkes saat dijumpai beberapa waktu lalu.

Menkes menyebut, pelayanan kesehatan yang harusnya diberikan pada pasien adalah pelayanan kesehatan dasar. Yaitu pelayanan kesehatan berdasarkan diagnosa yang benar dan diterapi dengan optimal sehingga pembiayaan tidak menjadi berat.



"Kanker juga begitu. Jangan stadium 1 dikemo sistemik. Ya matinya bukan karena kankernya, tapi obat-obatnya yang berlebihan. Itulah namanya jangan maksimal, tapi optimal," sebutnya.

Pada kesempatan itu, Menkes juga menyebut perbandingan operasi kelahiran sesar di Indonesia sangat tinggi dibandingkan standar yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia WHO. Idealnya, perbandingan tersebut adalah 20 persen, namun di Indonesia perbandingannya mencapai 45 persen.

"Saya yakin dokter-dokter membela diri "wah saya sesuai aturan". Lho saya ini dokter fungsional. Saya dokter beneran, saya ngelayani pasien. Sama-sama lah melihat," papar Menkes.

Pelayanan kesehatan yang maksimal, menurutnya malah bisa membahayakan nyawa pasien. Ia berharap tak lagi tindakan yang notabene merugikan pasien. Menkes meyakini, jika para dokter mengambil tindakan yang benar, maka klaim dan defisit BPJS Kesehatan tidak akan sebesar yang sekarang.

(Catatan redaksi: artikel ini mengalami pemutakhiran terkait data tentang pembiayaan penyakit katastropik oleh BPJS Kesehatan)



Simak Video "Sebut WNI ABK World Dream 'Duta Imunitas Corona', Menkes Dicibir"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)