Kamis, 28 Nov 2019 17:50 WIB

Kata Pengamat Soal Wacana Menkes Ambil Alih Wewenang Izin Edar dari BPOM

Firdaus Anwar - detikHealth
Lamanya izin edar disebut dapat meningkatkan biaya produksi. (Foto: iStock)
Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan berencana mengambil alih wewenang izin edar obat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Alasannya disebut untuk mempermudah birokrasi sehingga izin cepat keluar dan pada akhirnya membuat harga obat jadi lebih murah.

"Apa gunanya jika izinnya memakan waktu berbulan-bulan, itu yang akan kita pangkas dengan deregulasi," kata Menkes Terawan saat dijumpai di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Senin (25/11/2019) lalu.

"Kita kan lihat pasar, kalau pasar semua teriak bahwa izinnya susah kan saya harus menindaklanjuti. Saya ingin memperbaiki regulasinya, supaya iklim berusaha menjadi baik, investasi menjadi lebih nyaman, akhirnya harga yang dirasakan oleh masyarakat menjadi sesuai takarannya," lanjut Menkes.


Menanggapi hal ini pengamat industri farmasi Vincent Harijanto menyebutnya sebagai hal yang baik. Menurut Vincent, percepatan izin edar memang bisa membuat harga obat lebih murah karena pengusaha tidak perlu contohnya menyimpan stok bahan baku berlama-lama sebelum mulai proses produksi.

"Contoh ada obat kalau dihitung-hitung proses registrasi normal harga lima ribu. Tapi karena registrasi makan waktu, tidak keluar-keluar, stok bahan baku yang dimasukkan harus banyak. Ya kan otomatis memengaruhi harga obat itu sendiri. Karena cost of productionnya naik," kata Vincent saat dihubungi detikcom, Kamis (28/11/2019).

Ditambahkan oleh Menkes Terawan, menarik perizinan dari BPOM sudah sesuai dengan aturan PP dan UU. Keputusan untuk menarik perizinan dianggap tak lagi melanggar ketentuan tersebut karena atas dasar kesepakatan bersama dengan BPOM, dan tidak bermasalah.



Simak Video "BPOM Tak Beri Izin Edar Herbal 'Polosan' Milik Hadi Pranoto"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)