Sabtu, 21 Des 2019 10:01 WIB

Kaleidoskop Kesehatan 2019

Februari: Ani Yudhoyono Sakit Kanker Darah dan Heboh Inses di Lampung

Firdaus Anwar - detikHealth
Ani Yudhoyono. Foto: instagram Ani Yudhoyono/annisa yudhoyono
Jakarta - Masuk bulan Februari muncul berita heboh istri Presiden ke-6 RI, Ani Yudhoyono, jatuh sakit. Ia diketahui berjuang melawan penyakit kanker darah.

Selain itu ada juga cerita tentang perilaku hubungan sedarah atau inses yang dilakukan oleh ayah pada anak perempuannya di Lampung. Dari penyelidikan polisi terungkap bahwa selain sang ayah, dua kakak laki-laki korban juga ikut terlibat.

Berikut artikel kesehatan detikcom yang ramai di Februari 2019:

1. Ani Yudhoyono kanker darah

Kabar Ani Yudhoyono mengidap kanker darah tidak disangka-sangka oleh keluarga. Awalnya, keluarga mengira Ani hanya kelelahan setelah menemani Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Aceh pada Januari 2019.

Ani Yudhoyono awalnya menjalani pemeriksaan di RSPAD Gatot Subroto. Hasilnya, ada indikasi yang tidak baik pada sel darah.

Pada akhirnya Ani menjalani perawatan untuk kanker darah leukemia di Singapura. Perjuangan Ani melawan penyakit ini berlangsung selama beberapa bulan hingga pada 1 Juni 2019 ia dikabarkan wafat.

"Innalillahi wainnailaihi rojiun. Telah meninggal dunia Ibu Ani pada pukul 11.50 waktu Singapura. Semoga almarhumah husnul khotimah," tulis politisi Partai Demokrat Andi Arief di media sosial.


2. Tren veneer abal-abal

Banyaknya akun jasa tukang gigi yang 'seliweran' di berbagai media sosial mulai dari Facebook hingga Instagram menyita perhatian perhimpunan dokter gigi.

Beberapa dokter gigi yang merasa resah karenanya lalu membuat akun @korbantukanggigi untuk memberi edukasi dan menindak lanjuti berbagai kasus malpraktik yang dilakukan oleh jasa tukang gigi tersebut.

drg Ahmad Syaukani, SpOrt, dari PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) mengatakan bahwa veneer gigi harus dipasang dengan hati-hati karena sifatnya yang dipasang permanen di permukaan gigi. Pemasangan veneer gigi yang gagal, menyisakan celah misalnya, akan mengundang sisa-sisa makanan untuk menumpuk dan menimbulkan masalah kesehatan mulut.

"Makanan menumpuk jadi karies berlubang, peradangan pada gusi, bengkak berdarah. Berlubang ditutup bisa jadi malah sakit yang tadinya mungkin enggak sakit. Dampak minimalnya aja seperti itu," kata dokter yang akrab disapa drg Kani ini kepada detikcom.

"Jangka panjang terus menerus seperti itu bisa membuat gangguan pada gigi dan mulut misalnya jadi sariawan terus menerus. Bakteri dari gusi juga bisa masuk ke pembuluh darah membuat masalah jantung," lanjutnya.


3. Sound system bikin jantungan

Pada 25 Februari 2019 dilaporkan ada anak sembilan tahun di Blitar ditemukan tidak bernyawa di depan sound system tetangganya yang sedang hajatan. Polisi menyebut kemungkinan ia meninggal karena kena serangan jantung, kaget oleh suara keras sound system.

Mengomentari hal ini ahli jantung dr Vito A. Damay, SpJP(K), menduga kemungkinan sang anak sudah memiliki penyakit jantung bawaan. Dengan kondisi itu memang bisa saja kaget karena suara sound system memicu serangan.

"Terlepas dari dia merokok atau yang lainnya, pada kasus ini mirip adanya gangguan irama jantung yang karena bawaan dan dipicu dengan suara keras, sehingga membuat irama jantungnya tidak beraturan," kata dr Vito.


4. Heboh inses di Lampung

Geger kasus incest atau hubungan sedarah yang dilakukan oleh seorang ayah dan dua anak laki-lakinya kepada saudara perempuan mereka sendiri di Lampung menyita perhatian. Korban yang berusia 18 tahun ini disebut mengalami trauma setelah disetubuhi berkali-kali.

Banyak pihak yang menyebut perilaku incest merupakan sebuah bentuk perilaku yang tidak wajar, namun apakah benar incest disebabkan oleh gangguan jiwa?

Menurut dr Wayan SpKJ dari RSUD Koja Jakarta Utara, penyebab incest harus diperiksa dan ditelusuri terlebih dahulu. Ia melanjutkan, incest sendiri bukan termasuk gangguan jiwa.


5. Viral tulisan ceker ayam dokter

Sempat viral tangkapan layar goresan aneh disebut cakar ayam. Tidak ada keterangan apapun yang menyertainya. Hanya goresan mirip huruf 'P' yang tidak terlalu jelas di bagian awal, lalu ditarik memanjang dan diakhiri dengan sudut dan lengkungan di ujungnya.

Beberapa orang menyebut ini adalah tulisan resep dokter.

dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia berkomentar tulisan tangan dokter seharusnya tidak melulu jelek. Terlebih, di zaman modern saat ini penginputan resep bisa menggunakan teknologi.



Simak Video "Mengenal Lebih Dalam Kanker Darah yang Diderita Ani Yudhoyono"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)