Jumat, 10 Jan 2020 16:34 WIB

Jenazah Lina Eks Istri Sule Jalani Tes Toksikologi, Ini Tahapannya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Tahapan pemeriksaan tes toksikologi terhadap jenazah Lina Jubaedah. Foto: Dony Indra/ detikhot
Jakarta - Setelah laporan yang diajukan Rizky Febian, jenazah ibunya Lina, eks istri Sule, menjalani tes autopsi oleh tim forensik Polda Jabar. Meski telah dilakukan pemeriksaan luar dan dalam, forensik RS Bhayangkara Sartika Asih Polda Jabar AKBP Robert Tanjung mengatakan masih akan melakukan tes toksikologi di Puslabfor Mabes Polri.

Untuk bisa melakukan tes toksikologi forensik, Ketua komite Sumber Daya Toksikologi di College of American Pathologists, Barbarajean Magnani, PhD, MD, mengatakan butuh beberapa sampel sebagai bahan pemeriksaan.

"Kami mengumpulkan darah, urine dan jaringan lainnya dari tubuh si mayat (jenazah)," kata Magnani yang dikutip dari WebMD.

Berikut ini tahapan dalam melakukan pemeriksaan tes toksikologi.

1. Pengumpulan sampel

Untuk melakukan tes toksikologi, perlu ada sampel yang diuji di laboratorium. Sampel itu terdiri dari darah pada bagian vena femoralis (di kaki) dan darah dari jantung. Keduanya diperlukan karena konsentrasi obat atau cairan di keduanya berbeda dan hasil yang didapat semakin akurat.

"Selain itu, kami mengumpulkan urine jika ada (di dalam tubuh) dan juga menggunakan jaringan (untuk menguji)," ujar Magnani.

Sampel lain yang dibutuhkan dalam pengujian toksikologi forensik ini adalah jaringan dari hati, otak, ginjal, dan humor vitreous atau gel bening yang ditemukan di bola mata. Pengambilan sampel biasanya dilakukan oleh patolog atau asisten yang mengurusi mayat dan memakan waktu selama 15-20 menit.

2. Pengujian oleh ahli

Tahapan selanjutnya, sampel akan diserahkan ke ahli toksikologi untuk diuji. Pengujian biasanya dilakukan oleh ahli teknologi medis atau ahli kimia, seperti ahli kimia forensik yang sudah mendapat pengakuan atau sertifikasi.

"Hal pertama yang akan kami lakukan adalah penapisan dasar untuk mengecek adanya kandungan obat-obatan dalam urine dan darah. Seperti opiat, amfetamin, marijuana, alkohol, barbiturat, dan sebagainya," kata Magnani.

Dalam tes toksikologi dasar, bisa melacak adanya zat yang terkandung dalam darah menggunakan antibodi yang spesifik. Tapi, jika ada sesuatu yang ganjil lagi akan dilakukan tes yang lebih canggih, seperti spektrometri massa. Tes ini bisa mengidentifikasi bahan kimia dari jenis zat hingga besar muatannya.

Para ahli juga harus memastikan apakah ada zat lain yang ditemukan seperti untuk obat terapi, toksik, atau zat mematikan lainnya serta dosis yang digunakan. Lalu, membuktikan apa itu berkontribusi menyebabkan kematian atau tidak.

3. Pencatatan hasil

Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan di laboratorium oleh para ahli, hasil yang didapat kemudian dicatat. Hal ini untuk memastikan kandungan zat apa saja yang ditemukan pada mayat atau jenazah yang diautopsi.

Tapi, dalam menjelaskan hasil autopsi harus dilakukan oleh pakarnya. Seperti ahli toksikologi, ahli kimia, dan ahli patologi yang harus dilibatkan untuk menafsirkan hasil dengan benar dan tepat. Di dalam laporan atau hasil tes, akan dicantumkan jenis zat, kadar yang ditemukan, dan apakah itu mematikan atau tidak.


Simak Video "Menelisik soal 'Darah Indonesia' yang Heboh Gara-gara Agnez Mo"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)