Minggu, 03 Mei 2020 06:48 WIB

Terlalu Cepat Akhiri Lockdown, Hokkaido Terancam Corona Gelombang Kedua

Ayunda Septiani - detikHealth
BEIJING, CHINA - JANUARY 30: A sign instructs shoppers to wear protective masks at a mall on January 30, 2020 in Beijing, China. The number of cases of a deadly new coronavirus rose to over 7000 in mainland China Thursday as the country continued to lock down the city of Wuhan in an effort to contain the spread of the pneumonia-like disease which medicals experts have confirmed can be passed from human to human. In an unprecedented move, Chinese authorities put travel restrictions on the city which is the epicentre of the virus and neighbouring municipalities affecting tens of millions of people. The number of those who have died from the virus in China climbed to over 170 on Thursday, mostly in Hubei province, and cases have been reported in other countries including the United States, Canada, Australia, Japan, South Korea, and France. The World Health Organization has warned all governments to be on alert, and its emergency committee is to meet later on Thursday to decide whether to declare a global health emergency. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Virus Corona COVID-19 (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Sebuah pulau di Jepang kini tengah menghadapi gelombang kedua wabah virus Corona COVID-19. Diyakini sebagai akibat dari kebijakan untuk membuka lockdown terlalu awal.

Wilayah Hokkaido Utara telah membuka kembali lockdown pada 19 Maret lalu dan mengizinkan sekolah untuk beroperasional kembali. Dilaporkan, terjadi peningkatan kasus virus Corona COVID-19 dengan jumlah sebanyak 46 kasus konfirmasi pada Kamis (30/4/2020).

Dikutip dari laman New York Post, Ketua Asosiasi Medis Hokkaido, Kiyoshi Nagase mengatakan, ia menyesalkan kebijakan dicabutnya Lockdown di tengah pandemi COVID-19 yang masih merebak.

"Sekarang saya menyesalinya, kita seharusnya tidak mencabut keadaan darurat pertama," ujar Kiyoshi.

Sebelumnya, wilayah tersebut dipuji karena bisa menahan wabah COVID-19 dengan menerapkan lockdown selama 3 minggu. Tetapi, saat Gubernur Naomichi Suzuki mencabut lockdown, gelombang infeksi kedua menghantam kembali.

Menurut Kazuto Suzuki, seorang wakil dekan politik internasional di Universitas Hokkaido mengatakan, bahwa hal ini bisa menjadi peringatan bagi pemimpin negara untuk mempertimbangkan pelonggaran lockdown.

Saat ini Jepang mengkonfirmasi sekitar 14.008 kasus positif dengan angka kematian 430 jiwa, menurut data Research Center Johns Hopkins University, Jumat (1/5/2020).



Simak Video "WHO Sebut Pandemi Corona Tahun Kedua Lebih Buruk"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)