Senin, 18 Mei 2020 14:12 WIB

Pasar Ramai Jelang Lebaran, kenapa Sulit Tahan Godaan Beli Baju Baru?

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Pasar Anyar, Kota Bogor, sempat viral karena lautan manusia yang belanja baju Lebaran meski tengah diberlakukan PSBB. Hari ini kondisi di Pasar Anyar masih padat. Lautan manusia di Pasar Anyar Bogor yang sempat viral. (Foto: Antara Foto)
Topik Hangat Indonesia Terserah
Jakarta -

Pada hari Minggu (17/5/2020), Pasar Anyar Bogor dilaporkan padat oleh pengunjung yang datang untuk membeli baju lebaran. Padahal kegiatan yang mengundang keramaian semacam itu kerap disebut berisiko menyebarkan virus Corona COVID-19.

"Tadi saya tanya sama Corona mereka takut. Mereka takut loh, sama Corona takut mereka. Saya tanya ibu nggak takut sama Corona? 'Takut sih Pak', katanya. 'Tapi kan gimana lagi, anak saya kan belum beli baju lebaran'." kata Kepala Satpol PP Kota Bogor, Agustiansyah, Minggu (17/5/2020).

Menjelang hari raya Idul Fitri 1441 H beberapa pasar dan mal di berbagai daerah di Indonesia mulai ramai dikunjungi oleh para pembeli. Bahkan di antaranya sampai mengobral barang dagangan agar menarik minat pembeli untuk datang.

Mengapa budaya 'beli baju lebaran' bisa membuat orang lupa diri dan menyampingkan bahaya dari virus Corona?

Menurut psikolog Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd, dari Magna Cita Marlin, kemungkinan penyebab yang terjadi adalah karena adanya pola pendidikan yang salah. Sehingga orang-orang tidak bisa berpikir sebab-akibat dalam jangka panjang.

"Jadi orang itu terbiasa mikir yang pendek, karena sebelum-sebelumnya kita belum pernah dihadapkan pada konsekuensi yang langsung dan besar," kata Rosdiana kepada detikcom, Senin (18/5/2020).

"Kalau kita melihat secara psikologi perkembangan kognitif orang, memang nggak semua orang itu bisa berpikir sebab-akibat yang jangka panjang kalau cara pendidikannya salah," lanjutnya.

Rosdiana menjelaskan seseorang cenderung belum bisa sadar dan percaya dampak yang akan terjadi, apabila mereka belum merasakan atau melihatnya secara langsung.

"Jadi nggak ngeh aja bahwa ini memang bahaya. Jadi bahaya bagi mereka 'nggak nyata' di depan mata. Dia mungkin berpikir yang nyata di depan adalah Idul Fitri yang butuh baju baru," jelasnya.

"Jadi memang salah satunya itu adalah ketidakmampuan berpikir dalam jangka panjang, dan belum bisa memilih prioritas. Belum tahu yang harus diprioritaskan itu yang mana," pungkasnya.



Simak Video "Dokter: Gejala Penyakit Pasca-Lebaran Biasanya Tidak Spesifik"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)
Topik Hangat Indonesia Terserah