Selasa, 07 Jul 2020 08:46 WIB

Didesak Ubah Pedoman, WHO Tinjau Laporan Corona Menular Lewat Udara

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak WHO akan tinjau laporan para pakar soal penularan Corona. (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Baru-baru ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) didesak ratusan pakar untuk mengubah pedoman terkait penularan virus Corona. Sebanyak 239 ahli menyebut virus Corona bisa menular lewat udara.

Dikutip dari Channel News Asia, WHO kini meninjau laporan ratusan pakar tersebut usai surat terbuka disampaikan pada WHO. Dalam surat tersebut diuraikan bukti bahwa virus Corona dapat menyebar dalam partikel-partikel kecil di udara.

Sementara WHO mengatakan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19, menyebar terutama melalui percikan kecil yang dikeluarkan dari hidung dan mulut orang yang terinfeksi Corona. Namun, dalam sebuah surat terbuka kepada WHO di Jenewa yang diterbitkan pada Senin 6 Juli dalam jurnal Clinical Infectious Diseases, 239 ilmuwan di 32 negara menguraikan bukti bahwa mereka mengatakan partikel virus yang bertahan di udara dapat menginfeksi orang yang menghirupnya.

Karena partikel-partikel yang lebih kecil itu dapat bertahan lama di udara, para ilmuwan mendesak WHO untuk memperbarui panduannya.

"Kami mengetahui artikel itu dan sedang meninjau isinya dengan para ahli teknis kami," kata juru bicara WHO, Tarik Jasarevic, Senin, dalam sebuah email.

Sementara seberapa sering virus Corona dapat menyebar melalui jalur udara atau aerosol dibandingkan dengan percikan atau droplet yang keluar saat batuk dan bersin belum diketahui pasti. Setiap perubahan dalam penilaian WHO terhadap risiko penularan dapat memengaruhi sarannya saat ini untuk menjaga jarak satu meter secara fisik.

Pemerintah, yang bergantung kebijakan panduan WHO mungkin juga harus menyesuaikan langkah-langkah kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk mencegah penyebaran virus Corona. Meskipun WHO mengatakan sedang mempertimbangkan aerosol sebagai kemungkinan rute penularan, masih harus diyakinkan bahwa bukti tersebut benar-benar pasti dan menjamin perubahan dalam panduan Corona WHO.

Dr Michael Osterholm, seorang ahli penyakit menular di University of Minnesota, mengatakan WHO telah lama enggan mengakui penularan aerosol influenza terlepas dari data yang meyakinkan, dan melihat kontroversi saat ini sebagai bagian dari debat yang terjadi dari para pakar.

"Saya pikir tingkat frustrasi akhirnya meningkat sehubungan dengan peran yang dimainkan oleh transmisi udara pada penyakit seperti influenza dan SARS-CoV-2," kata Osterholm.

Profesor Babak Javid, seorang konsultan penyakit menular di Rumah Sakit Universitas Cambridge, mengatakan penularan virus melalui udara adalah mungkin dan bahkan sangat mungkin, tetapi mengatakan bukti tentang berapa lama virus Corona di udara dinilai belum cukup.

Jika virus Corona dapat bertahan di udara untuk jangka waktu yang lama, bahkan setelah orang yang terinfeksi meninggalkan ruangan, hal ini dapat mempengaruhi tindakan yang diambil petugas kesehatan dan orang lain untuk melindungi diri mereka sendiri.

Pedoman WHO untuk petugas kesehatan pada 29 Juni, mengatakan SARS-CoV-2 atau COVID-19 terutama ditularkan melalui percikan yang keluar saat batuk atau bersin, termasuk jika menempel di permukaan dan tidak sengaja tersentuh.

Sementara itu, para pejabat di Pusat Pengendalian Penyakit Korea Selatan mengatakan pada hari Senin, mereka terus membahas berbagai masalah tentang COVID-19, termasuk kemungkinan penularan melalui udara. Mereka mengatakan penyelidikan lebih lanjut dan diperlukan bukti lebih banyak.



Simak Video "Kesalahan Strategi Negara dalam Tangani Corona Menurut WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)