Rabu, 15 Jul 2020 11:15 WIB

5 Negara yang Sempat 'Sukses' Tangani Corona Namun Terancam Gelombang Kedua

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Otoritas kota Beijing, China kini mampu melakukan pemeriksaan virus Corona (COVID-19) terhadap nyaris 1 juta orang setiap harinya. 5 negara yang sempat 'sukses' tangani Corona namun terancam gelombang kedua. (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Pembatasan dilonggarkan, warga kembali beraktivitas normal, dan membolehkan perjalanan keluar-masuk menjadi beberapa alasan suatu negara kembali menghadapi ancaman gelombang kedua virus Corona. Bahkan ada wilayah yang hampir sebulan tak melaporkan kasus baru baik transmisi lokal maupun imported case, namun setelah relaksasi, infeksi COVID-19 muncul dan mengancam warga.

Sempat menyatakan 'bebas' dari infeksi Corona, tetapi akibat pelonggaran kebijakan lockdown, negara ini kembali melaporkan kasus baru dan terancam adanya lonjakan infeksi.

Berikut deretan negara yang sempat sukses tangani Corona namun kini terancam gelombang kedua dikutip detikcom dari berbagai sumber.

1. Thailand

Thailand adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang disebut berhasil menekan kurva penyebaran kasus COVID-19. Bahkan Thailand 50 hari berturut-turut tidak melaporkan adanya penambahan kasus transmisi lokal baru sehingga pemerintah akhirnya melonggarkan pembatasan.

Pada Juni, Thailand berencana untuk secara bertahap mengurangi pembatasan pada orang asing yang akan memasuki negara tersebut. Namun hanya beberapa kelompok yang boleh melakukan perjalanan ke Thailand di antaranya pekerja bisnis dan orang asing yang tinggal di Thailand.

Setelah dilakukan relaksasi, dua kasus infeksi COVID-19 yang berasal dari imported case kini mengancam 400 warga lokal sehingga mereka harus melaksanakan karantina mandiri. Hal ini memunculkan kepanikan akan adanya gelombang kedua Corona.

"Ini harusnya tidak terjadi, saya benar-benar minta maaf karena itu dan saya ingin meminta maaf kepada publik," kata Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha, dikutip dari Reuters.

Pemerintah Thailand mengakui peraturan untuk diplomat dan awak pesawat, yang termasuk di antara beberapa kategori orang asing yang diizinkan masuk sejak Maret dengan persyaratan isolasi diri, terlalu longgar.

2. Selandia Baru

Sempat melaporkan hampir sebulan tanpa kasus baru, baik transmisi lokal maupun imported case, Selandia Baru kini dihantui ancaman gelombang kedua COVID-19.

Adanya dua kasus baru pada Juni menggugurkan status 'bebas Corona' Selandia Baru. Disebutkan bahwa dua kasus baru tersebut merupakan dua wanita dari London.

Sebagai langkah antisipasi gelombang kedua, Selandia Baru membuat peraturan membatasi kepulangan warganya dari luar negeri. Selain itu Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern memerintahkan militer untuk mengawasi perbatasan Selandia Baru.

3. China

Setelah terjadi lonjakan kasus yang berasal dari pasar grosir Xinfadi, Beijing, pemerintah China menyebut terjadi kekhawatiran akan adanya gelombang kedua infeksi Corona. Padahal sebelumnya pemerintah Beijing mengatakan sudah lebih satu bulan tak ada kasus transmisi lokal yang dilaporkan.

Pasien dari klaster pasar Xinfadi mulai bermunculan sehingga pemerintah memutuskan memperbanyak pengujian sampel Corona yakni sekitar 400 ribu swab per hari. Kepala Ahli Epidemiologi di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, Wu Zunyou, mengatakan meski wabah baru telah 'dikendalikan', masih ada ancaman kasus baru bermunculan keesokan harinya.

"Itu tidak berarti tidak akan ada laporan pasien besok," ujarnya dikutip dari AFP.

4. Korea Selatan

Pada pertengahan Juni, otoritas kesehatan Korea Selatan umumkan hadapi gelombang kedua pandemi COVID-19. Setelah mendapat pujian jadi contoh sukses dalam menangani Corona, adanya lebih dari 100 kasus baru yang bermunculan terkait dengan klub malam membuat Negara Ginseng itu juga dihantui lonjakan kasus baru.

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korsel (KCDC) Jeong Eun-kyeong, mengatakan gelombang kedua dimulai selama periode liburan Mei dan akan sulit memprediksi kapan berakhir sebab transmisi lokal terjadi lebih banyak daripada yang diperkirakan.

"Di wilayah metropolitan, kami percaya bahwa gelombang pertama dimulai dari Maret hingga April serta Februari hingga Maret. Lalu kita melihat bahwa gelombang kedua yang dipicu oleh liburan pada bulan Mei tengah berlangsung," kata Jeong dikutip dari ABC News.

5. Hong Kong

Seorang pejabat kesehatan senior Hong Kong memperingatkan dalam konferensi pers terpisah pada hari Selasa bahwa bahkan Hong Kong telah memasuki 'gelombang ketiga' infeksi virus Corona. Dalam waktu singkat, pejabat setempat menyatakan ada banyak kasus transmisi lokal yang sumber awalnya tidak diketahui.

"Sejak akhir pekan lalu, situasi epidemi lokal telah berubah dengan cepat. Situasinya sangat kritis," kata Dr Wong Ka-hing, dikutip dari South China Morning Post.

Menyatakan situasi 'sangat mengkhawatirkan', Menteri Kesehatan Sophia Chan Siu-chee membuat serangkaian langkah baru termasuk mengawasi orang yang kembali dari negara-negara berisiko tinggi, dan asisten rumah tangga dari negara lain agar dikarantina di hotel pada saat kedatangan.



Simak Video "3 Negara Asia Berisiko Alami Gelombang Kedua Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/fds)