Heboh Anji Komentari Foto Jenazah Pasien dan Remehkan COVID-19

Round Up

Heboh Anji Komentari Foto Jenazah Pasien dan Remehkan COVID-19

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Selasa, 21 Jul 2020 05:43 WIB
Heboh Anji Komentari Foto Jenazah Pasien dan Remehkan COVID-19
Virus Corona COVID-19 (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Sebuah foto yang menampilkan jenazah pasien Corona yang terbungkus plastik di atas kasur rumah sakit viral di media sosial. Foto ini diambil fotografer Joshua Irwandi, untuk majalah National Geographic edisi Agustus 2020.

Foto tersebut menjadi perbincangan dan memancing komentar warganet, salah satu musisi Indonesia Anji. Komentar Anji yang diungkapkannya melalui akun media sosial pun menjadi kontroversi dan dinilai meremehkan bahaya virus Corona.

"Saya percaya cvd (COVID-19) itu ada. Tapi saya tidak percaya bahwa cvd semengerikan itu," tulisnya dalam akun Instagram miliknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenapa jenazah pasien Corona dibungkus plastik?

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, mengatakan salah satu standar prosedur dalam penanganan jenazah suspek atau pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19, adalah membungkus jenazah dengan plastik kedap udara atau kantong khusus.

"Dari jenazah bisa keluar cairan baik dari rongga mulut, hidung, atau juga dari dubur yang bisa saja masih mengandung virus COVID-19. Pada kondisi ini, masih bisa menularkan," jelas Prof Ari beberapa waktu lalu.

ADVERTISEMENT

Jenazah tidak secara langsung menularkan Corona, tetapi jika cairan dari tubuh jenazah yang mengandung virus tersentuh orang lain lalu mengusap area wajah, potensi penularan bisa terjadi. Setelah jenazah tertutup rapat, dimasukkan ke dalam peti dan harus segera dikebumikan dalam waktu 6 jam.

Banyak yang meragukan bahaya COVID-19, apa pengaruhnya ke pandemi?

Menanggapi itu, Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, Msc, mengatakan sikap meremehkan dan menganggap COVID-19 tidak berbahaya akan membuat orang tidak mematuhi protokol kesehatan. Akhirnya grafik kasus meningkat.

"Pasti naik lah. Kalau semua abai pasti ya naik, kira-kira hari ini 1.000, besoknya 2.000 dan bisa bertahan lama. Atau bahkan bisa sampai 3.000," ujarnya saat dihubungi detikcom, Senin (20/7/2020)

Diwawancara secara terpisah, Pandu Riono, ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) mengatakan meningkatkan grafik kasus baru COVID-19 yang terjadi saat ini juga bisa dipengaruhi masih adanya orang yang ragu dan meremehkan virus tersebut.

"Bisa (mempengaruhi grafik), sebagian dipengaruhi oleh itu. Kalau itu banyak, pasti kan nggak mau pakai masker. Jadi kalau nggak pakai masker, ya berisiko terkena," tuturnya.

Kenapa sih masih ada yang meragukan bahaya COVID-19?

Menurut Pandu, mereka yang masih ragu dan meremehkan bahayanya COVID-19 ini bisa jadi karena tidak punya pengalaman dengan penyakit tersebut.

"Nggak punya pengalaman mungkin. Nggak ada keluarganya yang kena COVID-19 atau temannya yang kena COVID-19," kata Pandu saat dihubungi detikcom, Senin (20/7/2020).

"Dan dia percaya sama informasi-informasi yang mengatakan bahwa COVID-19 itu cuma dibuat-buat," lanjutnya.

Pada kesempatan berbeda, anggota tim komunikasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dr Reisa Broto Asmoro, pun menekankan bahwa virus corona berbahaya, cepat, dan mudah menular. Bila masih ragu, ia menyarankan untuk bertanya pada pasien yang berhasil pulih dari COVID-19.

"Apabila masih punya keraguan, akseslah dan kumpulkanlah terus informasi dari seluruh dunia. Baik dari WHO, Kemenkes, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dan simak kesaksian pada penyintas atau mereka yang baru saja pulih dari COVID-19," tegasnya dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB, Senin (20/7/2020).

Saran agar hal seperti ini tidak terjadi lagi

Dalam hal ini, Pandu menyarankan perlunya edukasi pada masyarakat dengan cara yang berbeda. Bisa dengan memberikan mereka contoh orang-orang yang awalnya tidak mempercayai COVID-19 dan berakhir terinfeksi hingga dirawat di rumah sakit.

"Harus diedukasi. Banyak orang yang nyesel yang tadinya nggak pakai masker, akhirnya kena (COVID-19) sampai dirawat," ujar Pandu.

"Orang-orang yang tadinya nggak percaya dan akhirnya dirawat di rumah sakit, dan nyesel (tidak percaya COVID-19 ada) nah itu bisa dipakai untuk melakukan edukasi. 'Jangan seperti saya' gitu," imbuhnya.

Pandu mengatakan hal ini bisa menjadi imbauan keras untuk masyarakat yang masih meragukan COVID-19. Bahkan imbauan itu pun harus dilakukan oleh masyarakat sendiri.

"Edukasi oleh masyarakat sendiri, pemerintah sudah nggak punya kemampuan untuk mengedukasi. Biarin deh sekarang masyarakat yang melakukan edukasi bahwa pandemi ini real," tegas Pandu.

Halaman 2 dari 2
(sao/up)

Berita Terkait