Rabu, 26 Agu 2020 13:30 WIB

WHO Respons Munculnya Kasus Infeksi Ulang COVID-19

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak WHO respons munculnya kasus reinfeksi COVID-19. (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Sebuah studi baru-baru ini melaporkan kasus infeksi ulang atau reinfeksi COVID-19 di Hong Kong. Tidak lama setelahnya, kasus serupa dilaporkan terjadi pada dua pasien di Eropa.

Semakin banyak laporan kasus infeksi ulang COVID-19 ini memicu kekhawatiran, apakah ada dampaknya pada efektivitas vaksin. Namun, pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai kasus infeksi ulang atau reinfeksi COVID-19 yang dikonfirmasi dari seorang pria Hong Kong kemungkinan sangat jarang terjadi.

Ilmuwan Universitas Hong Kong mengumumkan pada hari Senin kemarin, bahwa jenis virus Corona yang menginfeksi pria itu berbeda dengan jenis yang pertama kali menginfeksi lebih dari empat bulan lalu. Juru bicara WHO, Dr Margaret Harris menilai perlu adanya laporan yang terdokumentasi dan diteliti lebih lanjut demi meminimalisir kesalahan.

Harris mencatat kemungkinan ini adalah kasus infeksi ulang COVID-19 pertama yang dikonfirmasi dari lebih 23 juta kasus. Jika kasus reinfeksi COVID-19 lebih sering terjadi, kemungkinan akan ada lebih banyak kasus serupa sebelum kasus ini.

Namun, dia mengatakan kasus ini signifikan, artinya terkait dengan kekebalan orang terhadap virus Corona COVID-19.

"Inilah mengapa kami memiliki banyak kelompok penelitian yang benar-benar melacak orang, mengukur antibodi, mencoba memahami berapa lama perlindungan kekebalan bertahan," sebutnya, dikutip dari VOA, Rabu (26/8/2020).

Harris mengatakan, masyarakat harus memahami perlindungan atau kekebalan alami yang berkembang setelah seseorang terkena virus. Pasalnya, hal ini tidak sama dengan perlindungan kekebalan yang diberikan oleh vaksin.



Simak Video "Riset Ahli Soal Kasus Pasien Sembuh Corona Kembali 'Terinfeksi'"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/fds)